Rabu, 05 Oktober 2011

SUARA PANGGILAN

“AdiiiiK............!”
Aku menoleh ke arah datangnya suara tadi. Tidak ada siapa-siapa di sekelilingku. Hanya ada hembusan angin yang merontokkan dedaunan dan menerbangkannya entah kemana. Tetapi suara itu jelas sekali terdengar di telingaku. Apalagi dalam suasana yang lengang seperti ini, jelas itu tadi suara panggilan. Seseorang telah memanggil seseorang. Tapi siapa? Dan yang dipanggil juga siapa? Aku mencoba mengelak dari rasa ge er yang tadi sempat singgah sejenak di hatiku. Hanya karena suara itu mirip dengan suara seseorang yang pernah aku kenal, hanya karena panggilan itu sangat mirip dengan panggilan yang biasa aku dengar, hampir saja membuatku kembali terjebak pada mimpi-mimpi semu yang selama bertahun-tahun telah dengan susah payah aku coba hapus dari hidupku.
Kulangkahkan kembali kakiku menyusuri jalanan berbatu, menyeruak timbunan daun dari musim gugur yang baru saja datang menghampiri. Kucoba menghilangkan gema suara panggilan tadi dari hati dan pikiranku namun semakin kucoba untuk menghilangkannya, suara panggilan itu semakin jelas terdengar, memantul dari satu pohon ke pohon yang lain. Bahkan gaungnya kini mulai memenuhi seluruh taman di mana saat ini aku berada. Aku mempercepat langkahku berharap suara panggilan itu tidak lagi mengikutiku tetapi suara panggilan itu masih terus saja membuntutiku menjejeri langkahku, dan berusaha untuk mendekat ke telingaku. Aku berlari, suara panggilan itupun ikut berlari, mengejarku, memburuku, berusaha untuk menggapaiku. Aku terus berlari, tanpa arah, tanpa tujuan, kututup kedua telingaku dengan kedua tanganku tetapi suara panggilan itu seolah-olah menyelusup di antara jemariku dan mempermainkan gendang telingaku. Suara panggilan itu mulai menguasai seluruh anggota tubuhku, menutup semua lubang pori-poriku, menggengam erat jantung dan hatiku, mencengkeram dengan kuat kedua kakiku, membuat lariku terpontal-pontal dan aku terpelanting, jatuh terjerembab di hamparan pasir putih dalam rupa yang pasi. Suara panggilan itu terus menggema, menyusup di antara urat-urat nadiku hingga kurasakan sebagian darahku berhenti mengalir, kulitku membiru. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk bangkit, kukibas-kibaskan butiran pasir yang menempel di jaket dan celanaku berharap suara panggilan itu ikut terpental bersamanya. Dengan sisa-sisa tenaga aku berjalan terseok-seok menuju ke sebuah pohon, duduk terpekur, menyembunyikan diri dari suara panggilan itu tetapi suara panggilan itu sepertinya telah mengetahui jalan pikiranku, dia telah mendahuluiku, menyatu, berkelindan dengan batang pohon dan meresap ke dalam aliran getahnya, lalu perlahan-lahan mulai mengucur, membasahi rambutku, keningku, wajahku, leher dan kedua tanganku, bercampur dengan keringat yang keluar dari dalam tubuhku padahal suhu saat ini begitu dingin menusuk tulang.
Tubuhku menggigil dan terus menggigil tetapi suara panggilan itu tak juga berhenti menggangguku.
“Adiiiik....... adiiiik........................... “
“Pergi......., pergilah dari hidupku”, usirku dengan suara gemetar.
“Adiiik....... adiiik................... “, suara itu terus memanggilku.
“Pergi kataku. Aku tak mau lagi mendengar suaramu. Aku tak mau lagi mendengar panggilanmu”, suaraku semakin meninggi, semakin gemetar, tubuhku mulai terguncang-guncang menahan rasa dingin tetapi keringatku terus mengucur membasahi baju dan jaket tebalku.
“Adiiiiik..... adiiik.............”
“Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”, aku memekik keras sambil menutup rapat kedua telingaku. Kutangkupkan wajahku ke atas pangkuanku agar suara pekikanku tidak sampai terdengar oleh orang lain. Syukurlah suasana taman bermain ini memang benar-benar sepi pada jam-jam seperti ini karena semua anak tentu masih berada di sekolah dan mengerjakan tugas sekolahnya di dalam kelas yang hangat sambil bersendagurau dengan teman-temannya.
Beberapa saat kemudian suara panggilan itu mulai berhenti menggangguku, hembusannya terasa menyapu wajahku ketika secara perlahan dia mulai bergerak menjauhi telingaku. Tetapi sedetik kemudian kurasakan sebuah tangan halus menyentuh daguku, aku begitu kaget ketika dengan setengah memaksa tangan itu menegakkan wajahku. Aku membuka mataku lebar-lebar tetapi tidak ada siapapun di dekatku. Lalu tangan siapakah tadi? Aku mulai merasa ketakutan. Mungkin penunggu pohon ini marah mendengar suara pekikanku.
“Kenapa kamu menghindariku?”, sebuah bisikan lembut tertangkap oleh telingaku.
“Siapa kamu? Kenapa kamu menggangguku?”
“Apa kamu lupa dengan suaraku? Coba dengarkan baik-baik”
“Jadi kamu suara panggilan itu?”
“Yah......”
“Tetapi kamu sudah lama meninggalkanku dan aku sudah lama pula menganggapmu mati”
“Aku tidak pernah meninggalkanmu tetapi kamulah yang berusaha melupakanku”
“Karena kamu memang pantas untuk dilupakan”
“Ha....ha...... kamu bohong..... kamu telah berbohong besar-besaran terhadap dirimu sendiri”
“Aku tidak pernah membohongi diriku sendiri dan kalaupun itu aku lakukan, sama sekali itu bukan urusanmu”
“Memang itu bukan urusanku, tetapi karena itu menyangkut diriku maka mau tidak mau itu juga menjadi urusanku. Lihat apa yang baru saja terjadi pada dirimu. Hanya karena mendengar suara yang mirip denganku saja kamu sudah hampir terpengaruh dan terjebak ke masa lalumu”
“Apa maksud kamu? Tapi itu memang suaramu bukan. Kamu sengaja ingin menggangguku dan ingin menjebakku kembali ke masa-masa pahit itu. Kenapa? Karena kamu tidak ingin melihatku hidup bahagia, iya pasti itu tujuan kamu. Kamu ingin menghancurkan hidupku”. Perasaan marah kepada suara panggilan itu mulai menguasaiku.
“Lihat dirimu baik-baik, bukan aku yang ingin menghancurkan hidupmu, tetapi dirimu sendirilah yang telah melakukannya. Kenapa kamu tega mencampakkan aku, apa salahku padamu?”, suara panggilan itu terus saja berusaha memojokkanku. Aku mulai menangis, entah menangis untuk apa. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh suara panggilan itu, sebenarnya aku sendirilah yang telah mencoba untuk menghancurkan hidupku karena bersikeras untuk terus mencintainya walau kenyataan di depan mata tidak memungkinkan untuk aku bisa mencintainya apalagi sampai memilikinya. Coba saja dulu aku tidak bersikap keras kepala dan mau berdamai dengan kenyataan tentu situasinya tidak akan seperti sekarang ini.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”, pertanyaan dari suara panggilan itu membuyarkan lamunanku.
“Aku sedang memikirkan kebodohanku di masa lalu yang sampai sekarang masih saja aku simpan. Pergilah dari hidupku dan jangan pernah kembali lagi untuk menggangguku”
“Maafkan aku, tetapi foto-fotomu yang tersebar di dunia maya memaksaku untuk mencari jejakmu”
“Kamu sudah berhasil menemukanku, sekarang pergilah”
“What?, aku sudah dengan susah payah mencarimu. Tetapi setelah bertemu kenapa kamu malah mengusirku?”
“Aku tidak pernah memintamu untuk mencariku dan aku juga tidak lagi mengharapkan kehadiranmu. Apa karena dulu aku begitu mencintaimu maka kamu menganggap aku akan dengan mudah menerima kehadiranmu? Kamu tidak pernah berubah sejak dulu. Kamu selalu mementingkan untuk menjaga imagemu daripada harus menjaga perasaanku. Kamu lebih memilih untuk tega mengabaikan perasaanku daripada kamu harus kehilangan wibawamu. Kamu tidak pernah mau mengakui bahwa kamu juga mencintaiku, bahwa kamu juga membutuhkan diriku. Hanya karena kamu seorang publik figure, kamu tega menistakan semua itu dari hati dan nuranimu. Kamu memang jahat, kamu orang yang paling jahat yang pernah aku kenal. Dasar pengecut, aku sangat membenci dirimu. Pergiiiii, pergiiii kamu dari hidupku”, akhirnya aku tak lagi bisa mengontrol emosiku. Aku bahkan tak lagi memperdulikan jika ada orang yang memperhatikanku atau mungkin menganggapku gila karena meracau seorang diri di dalam taman bermain anak yang lengang ini.
“Baiklah, aku menerima semua hujatanmu itu. Aku memang seorang pengecut karena tidak pernah mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaanku. Aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Aku memang patut dipersalahkan. Aku tidak pernah tahu sebegitu dalamnya perasaan cintamu dulu padaku. Aku tidak akan menyalahkanmu kalau sekarang kamu sangat membenciaku. Tapi tidakkah ada pintu maaf untukku? Aku tidak berharap kamu akan memberiku kesempatan satu kali lagi tetapi paling tidak maafkanlah aku. Aku akan pergi, tetapi aku akan terus kembali sampai kau bersedia memaafkanku. Selamat tinggal adik, maaf telah mengganggu ketenanganmu”, setelah berkata begitu suara penggilan itu perlahan bergerak menjauh meninggalkan hembusan dingin yang membuat mataku perih seperih hatiku ketika mendengar dia memanggilku adik.**************
Kutinggalkan taman bermain dengan tumpukan daun-daun kering. Warna coklatnya menyamarkan warna pasir yang menyebar di seluruh area taman. Beberapa butir pasir masuk ke dalam sepatu bothku namun tak lagi kuperdulikan. Ingin rasanya aku cepat sampai di kamarku yang hangat, merebahkan diri di atas kasur busa yang empuk, menghilangkan rasa penat yang saat ini tidak saja menyiksa fisikku tetapi terlebih-lebih telah meremukredamkan bathinku. Atau membenamkan diri di dalam air hangat di dalam bath up supaya seluruh keletihan ini sirna dan berganti dengan rasa segar. Oh secangkir kopi panas sepertinya juga bisa menjadi pilihan yang tepat untuk merilekskan suasana seperti ini. Aku semakin mempercepat langkahku agar segera bisa melakukan semua hal yang bisa mengusir bayangan dia dari pikiranku.
Kulewati bangunan demi bangunan untuk sampai di apartemenku. Namun pandanganku seolah menjadi nanar atau entah memang mataku yang penat ini yang salah melihat dan membaca. Semua bacaan yang aku temui bertuliskan kata “adik”, adik, adik dan adik. Semua papan nama pertokoan, papan nama jalan, papan-papan pengumuman, semuanya bertuliskan kata adik... adik... dan adik..... Semua orang yang kutemui, yang berpapasan denganku, yang tengah duduk-duduk di kafe, restaurant, semua mengucapkan kata adik... adik dan adik. Suara mereka semuanya mirip dengan suara panggilan itu. Mendengung-dengung seperti sekelompok lebah yang baru saja keluar dari sarangnya. Ya Tuhan, suara panggilan itu benar-benar telah meracuni pikiranku, menyumbat syaraf-syaraf otakku, tak memberiku kesempatan untuk memikirkan hal lain selain suara itu. Aku terus mempercepat langkahku, dan berusaha menghindari gema suara-suara itu dengan menututup kedua telingaku. Dan ketika pada akhirnya aku telah sampai di depan pintu gerbang apartemenku, semua tulisan di daftar nama penghuni apartemenku berubah menjadi kata adik. Kubuka dengan tangan gemetar pintu kamarku yang di situ juga tertulis kata adik. Aku tak lagi perduli. Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur, kututupi wajahku dengan bantal, kucoba untuk melupakan semua yang sudah aku alami hari ini. Tetapi semua usaha itu sia-sia karena seluruh isi kamarku sudah tertutup oleh tulisan kata adik. Akhirnya aku mengalah, kubiarkan pikiranku menyatu dengan kata itu. Kucoba menikmati kembali kebahagiaan yang dulu sering aku rasakan ketika dia memanggilku dengan sebutan itu.
“Adiiik, lho kamu ngapain sendirian di luar? Hujan-hujan lagi. Kenapa nggak gabung sama yang lain di dalam sana. Lebih hangat dan bisa mencicipi hidangan yang sudah tersedia”, orang yang memanggilku adik itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku. Aku sangat gugup saat itu dan tak tahu harus menjawab apa. Laki-laki itupun sepertinya tidak membutuhkan jawabanku. Dia terus berdiri, membiarkan rambutnya yang tersisir rapi basah oleh cipratan air hujan, begitu juga kemejanya yang licin dan mengeluarkan aroma wangi tertimpa butiran-butiran kecil dari air hujan yang terhempas dibawa angin. Hari itu kalau tidak salah ada acara seminar atau simposium, entahlah aku lupa dan dia menjadi salah satu narasumbernya.
“Aku..... hm.....”
“Ya sudah, aku tunggu di dalam ya”, dia berkata sambll beranjak masuk kembali ke dalam ruangan sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Sekilas kulihat pandangan aneh di matanya, ada sedikit rasa khawatir di sana. Selalu seperti itu. Dia tidak pernah mau berlama-lama berada di dekatku atau bercakap-cakap denganku tetapi jika aku tidak ada dia selalu mencariku, menelponku atau mengirimiku sms meski kalimatnya hanya pendek-pendek dan sama sekali jauh dari kata manis. Aku sama sekali tidak faham mengapa dia bersikap seperti itu kepadaku, acuh tetapi butuh. Apa mungkin karena dia merasa aku selalu ada di saat dia membutuhkan seseorang untuk menolongnya. Aku sendiri juga heran mengapa selalu saja terjadi kebetulan-kebetulan yang membuat dia harus selalu merasa berhutang budi kepadaku.
Beberapa saat kemudian kulihat dirinya telah berbaur kembali dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan dan seperti biasa, kebanyakan para perempuanlah yang mengelilinginya. Aku tidak akan sanggup untuk masuk ke dalam sana, menyaksikannya tertawa-tawa bahagia dengan beberapa perempuan yang selalu berada disekelilinginya. Aku tidak akan bisa membendung perasaan cemburu melihat mata-mata genit mereka menatapnya penuh kekaguman, saling berebut mencari perhatian darinya. Aku terus berdiri di tempatku, memandangi sosoknya yang memang mengagumkan. Tidak salah jika perempuan-perempuan itupun berpikiran sama denganku. Sesekali kulihat matanya mengarah ke sekeliling ruangan, entah siapa yang sedang dicarinya. Tetapi sejurus kemudian dia mengarahkan matanya ke arahku. Mungkin dia ingin memastikan kalau aku masih ada.. Wajahnya terlihat damai ketika matanya bersiborok dengan mataku. Seperti biasa tanpa senyum. Aku baru masuk ketika acara sudah dimulai, semua peserta sudah duduk tenang di kursinya masing-masing dan para narasumber sudah berada di atas mimbar. Aku selalu suka melihat gaya lincahnya saat mempresentasikan makalahnya.
Ruang seminar sudah sepi ketika aku keluar dari toilet. Di atas sebuah meja di pojok ruangan kulihat ada sebuah tas. Tas siapa itu yang tertinggal di sana, mungkin milik salah satu peserta pikirku. Aku segera mendekati tas itu untuk mencari tahu barangkali aku mengenal pemiliknya atau paling tidak ada identitas si pemilik yang melakat pada tas itu. Aku langsung mengenali tas itu ketika sudah berada di dekatnya. Tidak salah ini pasti miliknya. Dia memang sangat pelupa apalagi jika sudah mengobrol dengan teman-temannya, dia akan melupakan yang lain-lainnya. Aku lalu mengambil tas itu untuk kuserahkan kepadanya. Baru saja aku akan keluar pintu ruangan, kulihat dia dengan langkah cepat menuju ke arahku.
“Kamu mencari ini?”, tanyaku seraya menyodorkan tasnya.
“Alhamdulillah, untung ada adik yang menemukannya. Aku tadi keasyikan ngobrol sampai lupa untuk mengambilnya. Terimakasih”
“Sama-sama”, balasku sambil tersenyum kecil.
“Teeeeeeeeeeeeeet”. Suara bel di pintu membuyarkan lamunanku. “Siapa sih yang pencet-pencet bel, bikin kaget orang saja”, pikirku. Aku tidak menggubrisnya karena paling-paling juga tukang koran yang meminta tolong untuk membukakan pintu gerbang. Aneh, semuanya tiba-tiba kembali normal setelah aku mengalah dan berdamai dengan masa laluku. Aku tidak lagi menemukan tulisan-tulisan adik yang tadi memenuhi kamarku. Aku juga tidak lagi mendengar dengungan sura pangilan itu di telingaku. Kamarku sudah kembali tenang seperti semula. Aku lalu beranjak menuju meja untuk menyalakan laptopku. Begitu aku buka yahooku, ada satu kiriman dari seseorang yang tidak aku kenal. Karena penasaran aku buka kiriman itu. Betapa kagetnya aku karena begitu selesai aku mendownloadnya, terdengar suara panggilan itu “adiiiiiiiiiiiiiiiiiiik”

Berlin, sparrstrasse 2, 16 Oktober 2010, awal musim gugur yang dingin

Tidak ada komentar: