Selasa, 11 November 2008

KIRIMAN MISTERIUS


Kisah ini berawal ketika seorang remaja bernama Desi, kelas 1 SMA bercita-cita ingin membangun sebuah sekolah khusus untuk anak-anak jalanan yang setiap hari berkeliaran di jalanan yang dia lewati ketika berangkat atau pulang sekolah. Hatinya begitu trenyuh melihat anak-anak usia balita tanpa alas kaki melangkah di atas lapisan aspal yang pastinya akan terasa sangat panas ketika tertimpa terik matahari, mereka bergelantungan di atas bis-bis kota tanpa rasa takut terjatuh. Mata Desi selalu berkaca-kaca manakala bertatapan dengan mata mereka. Pastilah umur anak-anak itu sepantaran dengan Dito adiknya. Dito masih bersikap manja. Dia hampir tidak bisa melakukan sendiri apa yang dimauinya, seperti memakai pakaian, makan, minum, semua masih minta dilayani bahkan hal-hal yang kiranya berbahaya untuk dilakukannya, tak pernah luput dari pengawasan orang tua. Sementara, anak-anak jalanan ini, mereka begitu lincah naik dan turun dari mobil, berjalan di antara seliweran motor dan mobil tanpa rasa takut. Mereka juga pasti tak sempat untuk memikirkan membeli sebuah mainan yang menjadi hal paling diinginkan oleh anak-anak seusia mereka. Hampir tiap kali diajak ke pasar, Dito selalu minta dibelikan mainan. Padahal mainan di rumahnya sudah sangat banyak. Membayangkan semua itu, Desi selalu tak bisa menahan untuk tidak menangis. Dia selalu membayangkan seandainya dirinya memiliki uang yang banyak, pasti dia akan mengumpulkan anak-anak itu dan memberikan semua yang mereka butuhkan.

Terobsesi oleh cita-citanya itu, suatu hari ketika ada sebuah bank yang datang ke sekolahnya untuk mengenalkan program tabungan bagi pelajar, Desipun membuat sebuah rekening untuknya. Dengan tulus dia niatkan tabungannya itu kelak untuk mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak jalanan. Meski dia tak tahu kapan hal itu akan terwujud karena dari uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya itu paling dia hanya bisa menyisihkan perharinya 1000 rupiah. Dengan jumlah itu berarti tiap bulan Desi hanya bisa menabung kurang lebih 25 ribu rupiah. “Tak apalah. Sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit, yang penting aku ikhlas melakukan ini”, bathin Desi menghibur dirinya.

Peraturannya ketika itu adalah, setiap siswa yang memiliki tabungan tidak diperkenankan memegang sendiri buku tabungannya. Hal ini untuk mencegah agar siswa yang memiliki tabungan itu tidak bisa mengambil tabungannya. Karena sebenarnya tujuan dari program tabungan pelajar ini adalah untuk menolong mereka membayar iuran ujian akhir tahun yang jumlahnya lumayan besar. Sementara kebanyakan siswa di sekolah Desi ini berasal dari golongan menengah ke bawah. Sebagai gantinya, guru hanya memberikan struk bukti setoran mereka. Jadi berapa jumlah saldo akhir tabungan, siswa hanya bisa mereka-reka sendiri kira-kira sudah berapa uang yang mereka tabungkan.

Bulan demi bulan Desi terus bersemangat menyisihkan uang jajannya untuk ditabungkan. Setelah program itu berjalan selama kurang lebih satu tahun, dan Desi mengira-ngira jumlah tabungannya sudah mencapai kurang lebih 600 ribu rupiah, tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi pada tabungannya. Setelah pagi itu dia menyerahkan uang 25 ribu kepada wali kelasnya untuk ditabungkan ke rekeningnya, siangnya sang wali kelas memanggilnya. Wali kelasnya lalu menanyakan kepadanya apakah dia pernah menabung sebelum hari ini? Desi menjawab tidak. Sang wali kelas mengernyitkan kedua alisnya dan tampak bingung.

“Memangnya ada apa pak?”, tanya Desi yang melihat kebingungan di wajah sang wali kelas.

“Ada seseorang yang telah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Kamu tahu siapa kira-kira orang ini?”, tanya sang wali kelas.

Desi menggeleng. “Memang berapa jumlah yang ditransfer pak?”, Desi balik bertanya. Sang wali kelas memandang ke wajah Desi sesaat sebelum menyebutkan jumlah uangnya.

“Berapa pak?”, Desi bertanya lagi karena penasaran.

“Enam ratus juta”

“Hah?” Enam ratus juta?! Itu tidak mungkin. Pasti pihak banknya salah pak”, Desi berucap tak percaya. Kedua telapak tangannya langsung dingin. Wajahnya pucat dan dia hampir saja jatuh kalau tubuhnya tidak langsung ditangkap oleh sang wali kelas. Dengan meminta bantuan guru yang lain, tubuh Desi dibopong ke sebuah bangku panjang.

“Minum dulu Des”, seorang guru perempuan memberinya segelas air putih. Setelah merasa pulih Desi meminta sang wali kelas untuk mengusut kiriman misterius itu ke pihak bank. Dia khawatir hal itu akan menjadi masalah besar atau lebih buruk lagi jika kemudian dia dituduh telah melakukan sebuah tindak kriminal. Namun jawaban dari bank lagi-lagi membuat Desi syock. Menurut bank, tak ada data jelas dari sang pengirim dan nomor rekening yang dituju oleh sang pengirim jelas-jelas nomor rekening atas nama Desi. Bahkan di kolom berita Juga tertulis pesan kalau dana itu ditujukan untuk Desi, siswi kelas 1 SMA BUDI PEKERTI. Berarti jelas sudah, tidak ada kesalahan dari pihak bank mengenai kiriman misterius itu dan yang pasti uang itu memang dikirimkan untuk Desi. Akhirnya, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menelusuri asal usul uang tersebut, Desi membiarkan uang itu tetap berada di tabungannya.

Pada tahun kedua, terjadi keajaiban yang sama. Dana dengan jumlah dua kali lipat dari jumlah yang pernah dikirimkan oleh si pengirim misterius itu masuk lagi ke rekening Desi. Keajaiban itu terus berulang di setiap akhir tahun hingga membuat saldo tabungan Desi bertambah dan semakin bertambah. Belum lagi ditambah dengan sekian persen dari bunga bank. Tapi meski begitu, tak sedikitpun terbetik di pikiran Desi untuk mengambil uang tersebut dan menggunakannya untuk kepentingan pribadinya. Sampai tiba waktunya di mana seluruh siswa boleh mengambil tabungannya untuk dipergunakan membayar biaya ujian akhir tahun. Ketika sang wali kelas mengangsurkan struk tanda pengambilan tabungan ke Desi, gadis itu menolak.

“Lho, kamu kan harus melunasi biaya ujianmu?”

“Iya pak, tapi bukan dengan uang tabungan ini. Saya akan memintanya kepada orang tua saya. Mereka telah menyisihkan penghasilan mereka untuk persiapan ujian saya”

“Lalu tabunganmu yang banyak ini mau kamu gunakan untuk apa Des? Untuk biaya masuk perguruan tinggi?”

“Tidak pak”

“Lantas?”, sang wali kelas terlihat tambah heran.

Setelah didesak oleh sang wali kelas akhirnya Desi berterus terang bahwa niat awal dia menabung adalah agar kelak dia bisa membangun sekolah untuk anak-anak jalanan. Sang wali kelas terharu mendengar jawaban muridnya itu. Dalam hati sang wali kelas mulai menebak-nebak mungkin yang mengirimi Desi uang adalah Tuhan yang telah mendengar niat tulus gadis itu. Sang wali kelas sangat bangga memiliki murid yang berbudi luhur seperti Desi.***********

Langit berwarna cerah ketika di atas sebuah podium bapak Bupati dengan suara lantang membuka dengan resmi sekolah MENTARI PAGI yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan. Ratusan orang termasuk tokoh-tokoh masyarakat seperti camat, lurah dan tokoh-tokoh agama yang hadir memberi applous dengan bertepuk tangan.

“Secara khusus saya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ananda Desi yang telah mendedikasikan sekolah ini untuk saudara-saudara kita yang kurang mampu. Saya berharap akan ada Desi-Desi lain yang akan berbuat hal yang sama seperti ananda Desi ini”, Bapak Bupati melanjutkan sambutannya. Para hadirin kembali bertepuk tangan. Sekelompok anak-anak muda membuat yel-yel dengan menyebut nama Desi.

“Desi..........Desi.............Desi............yes........” Di kursinya Desi tampak tersipu malu dielu-elukan seperti itu.

Seusai acara sambutan, Desi mendapat giliran untuk menggunting pita yang melintang di pintu utama gedung berlantai tiga itu sekaligus menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah bisa dimulai. Anak-anak dengan balutan baju-baju dekil berhamburan memasuki ruang-ruang yang ada di gedung itu. Desi dan semua yang hadir membiarkan mereka menikmati dunia baru mereka yang seharusnya sudah mereka nikmati sejak usia mereka dianggap layak untuk bersekolah.

Puluhan wartawan yang menanyakan darimana Desi mendapatkan dana untuk membangun sekolah ini hanya dijawab Desi dengan kalimat pendek “semua ini pemberian Tuhan mas, mbak” Sesaat kemudian Desi telah terlihat di antara para balita yang asyik mengutak-atik berbagai mainan yang tersedia di sana. Sambil menebarkan senyumnya Desi mengelus kepala tiap-tiap anak tanpa mengucap sepatah kata. Hanya airmatanya saja yang berjatuhan pertanda sebagai rasa suka citanya karena cita-cita besarnya itu kini telah mewujud menjadi sebuah dunia baru yang memberi segudang harapan bagi masa depan anak-anak kurang mampu yang ada di sekitar lingkungannya.

Desi sangat bersyukur karena ternyata banyak warga yang mendukung kerja sosialnya ini. Dengan suka rela mereka menyumbangkan tenaga untuk ikut mengelola sekolah ini. Mereka yang memiliki harta lebih tak segan-segan mendonasikan harta mereka untuk kepentingan anak-anak binaan Desi ini. Bahkan sehari setelah diresmikan, banyak para donatur yang datang mengunjungi sekolahan ini. Mereka mendaftarkan diri untuk menjadi donatur tetap sekolah gratis ini. Setelah membaca beritanya di koran-koran dan majalah-majalah yang waktu itu meliput, rata-rata mereka berdecak kagum dan salut kepada pribadi Desi. Bahkan ada seorang pengusaha muslim yang menawarkan beasiswa untuk kuliahnya Desi. Tentu saja Desi merasa sangat senang. Dia berharap dengan beasiswa itu, dia bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan kelak akan disumbangkannya untuk memajukan anak-anak binaannya.

Subhanallah, Tuhan telah menepati apa yang difirmankanNya. “Kun fa ya kun, terjadilah maka terjadi”. Jika Tuhan berkehendak apapun pasti bisa terjadi. Tuhan telah mendengar niat tulus yang diucapkan Desi dalam hatinya ketika hendak membuka tabungan dulu. Maka Tuhan menyambut niat baik Desi itu dengan membantu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita Desi. Kepada anak didiknya tak bosan-bosannya Desi selalu berpesan “Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Paling tidak tanamkan niat yang ikhlas ketika ingin melakukan sesuatu. Insya Allah Tuhan akan mendengar niat kita dan membantu kita untuk mewujudkannya”.

Depok, 8 September 2008

KISAH DI KOTA KECIL


Tanpa sadar kudekatkan wajahku ke wajahnya hingga hidung kami saling bersentuhan. Dia hanya diam. Dengan hati-hati kukecup lembut bibirnya. Dia juga tetap diam. Matanya terpejam rapat. Airmatanya terus berjatuhan. Aku tak tahu apakah itu airmata kesedihan atau air mata marah karena aku telah mencium bibirnya. Aku tak perduli. Aku terlanjur terbakar dalam kobaran api asmara. Aku kembali memagut bibirnya, memeluk erat tubuhnya seolah tak ingin kulepas lagi. Setelah puas aku mencumbunya, ku pegang kedua bahunya lalu kutatap matanya. Mata gadis itu berurai air mata. Kuhapus airmata yang terus berjatuhan di kedua pipinya. Gadis itu terus saja diam seribu bahasa. Dengan berbisik kuungkapkan rasa penyesalanku karena telah mencumbunya.Wajahnya tertunduk, dia mencoba menahan isak tangisnya agar tak bersuara. Aku jadi merasa sangat bersalah. Aku merasa menjadi laki-laki paling tidak tahu malu di dunia ini yang tega memperdayai seorang gadis ingusan pada saat gadis itu sedang membutuhkan cinta, perhatian dan perlindungan dari seorang laki-laki yang lebih pantas menjadi kakaknya. Kenapa aku begitu bodoh untuk melakukan semua ini padanya. Kemana akal sehatku sehingga begitu tega menodai kemurnian seorang gadis kecil seperti dia. Harusnya aku menganggapnya sebagai adik karena dia memang seumuran dengan adikku, harusnya aku menganggapnya sebagai murid karena dia memang dititipkan padaku oleh ibu asuhnya untuk kubimbing. Tapi justru apa yang aku lakukan kepadanya. Di saat dia sedang dilanda kesedihan karena teringat kepada kedua orang tua yang telah meninggalkannya, aku justru memanfaatkannya untuk melampiaskan nafsuku. “Maafkan aku gadis kecil, karena telah memberimu dosa hari ini”, ucapku dalam hati.

“Apakah kakak mencintaiku?”, tanyanya tiba-tiba sambil menyeka kedua matanya.

Pertanyaan gadis itu sangat menusukku. Aku sendiri tidak tahu apakah aku mencintainya atau hanya sekedar kasihan karena mendengar kisah hidupnya yang menyedihkan itu.

“Kenapa kakak tidak menjawab pertanyaanku. Apakah kakak memang mencintaiku?”

“Nit, tentu saja kakak mencintaimu. Kalau tidak, untuk apa kakak melakukan semua ini. Untuk apa kakak setiap hari menungguimu di sini, membimbingmu, mengantarmu pulang. Percaya deh, kakak itu sayang banget sama kamu. Kamu itu gadis yang sangat baik, cantik, semua orang pasti akan sayang sama kamu”.

Tanpa kusangka Gadis kecil itu lalu menjatuhkan kepalanya di dadaku. Memeluk erat tubuhku. Kubelai rambutnya, kubisikkan kata-kata indah ke telinganya. Gadis itu kembali menangis, mengencangkan pelukannya. Mungkin dia merindukan kehangatan dan cinta dari keluarganya yang tak mungkin lagi bisa dia peroleh. Menurut ceritanya dan juga cerita dari ibu kepala Panti Asuhan, Nita mulai menghuni Panti Asuhan itu empat tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan telah terjadi tidak jauh dari sini. Dua penumpang yang ada di dalam mobil yang mengalami kecelakaan itu meninggal dan hanya satu yang selamat yaitu seorang anak perempuan. Itulah Nita. Sedangkan yang meninggal itu adalah ayah dan ibunya. Sejak saat itu oleh polisi Nita dititipkan di Panti Asuhan karena tidak ada keluarga yang menjemputnya. Sungguh malang sekali nasib gadis ini. Hingga hari pun ini tak ada satupun keluarganya yang berusaha untuk mencarinya. Dia hanya sebatangkara hidup di dunia ini. Karena kisah hidupnya yang menyedihkan itulah, aku jadi menaruh simpati padanya dan lama kelamaan tumbuh rasa sayang terhadap gadis itu. “Sekali lagi maafkan aku Nit, karena telah memberimu kenikmatan dosa. Tapi ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, aku sangat ingin menghiburmu. Sejak pertama kita bertemu di Panti Asuhan aku sudah tertarik pada pancaran matamu yang indah itu. Kamu gadis yang sangat cantik meski nasibmu sangat malang”, ucapku dalam hati. Siang itu tak banyak pelajaran yang Nita pelajari, kami berdua tenggelam dalam perasaan yang hanya kami berdua saja yang tahu.

Setibaku di kamar, bayangan gadis kecil itu terus bermain di pelupuk mataku. Gadis kecil yang masih sangat polos itu kini telah menaruh harapan yang begitu besar kepadaku, dan celakanya aku sendiri yang membuat kondisinya menjadi seperti itu. Aku bersalah karena telah merusak kepolosan gadis itu, aku juga bersalah karena telah menodai ketulusan gadis itu. Entah sampai kapan aku bisa berbohong kepadanya? Sampai kapan aku akan terus memanfaatkan kepolosannya? Aku tidak akan tinggal selamanya di kota ini. Jika kontrakku habis tentu aku harus meninggalkan kota ini, meninggalkan gadis kecil yang sudah terlanjur ternoda oleh keegoisanku. Aku hanya menjadikannya sebagai tempat pelarian saja sementara aku tidak bisa menemukan hiburan lain di kota kecil ini. Pada akhirnya aku hanya akan menambah deretan kesedihan dalam kisah hidupnya. Laki-laki macam apa aku ini yang tega mempermainkan perasaan gadis kecil yang sangat baik dan polos seperti dia. Entah apa yang sekarang sedang diimpikan gadis itu setelah kejadian siang tadi. Mungkin dia tengah berkhayal tentang seorang pangeran yang akan membawanya terbang menuju sebuah istana, atau mungkin dia tengah menyusun mimpi-mimpi kecil tentang sebuah masa depan yang indah bersama laki-laki yang sangat dicintai dan mencintainya. Laki-laki yang telah mengajarkannya bagaimana berlaku seperti perempuan dewasa, laki-laki yang telah mengobral seribu janji untuk membahagiakannya. Ah.....Nita, kenapa kamu begitu cantik dan menggairahkan. Kepolosanmu justru telah membangkitkan keinginanku untuk dapat memilikimu, menguasaimu dan menumpahkan semua perasaan yang ada pada diriku. Nita, seandainya kamu tahu kelebihan yang kamu miliki, seandainya kamu tahu daya tarik yang memancar dari tubuhmu dan seandainya semua laki-laki dikota ini sebejad diriku entah apa jadinya dirimu. Mungkin tak akan terlihat lagi kepolosan itu di dalam dirimu dan mungkin kamu tak akan berani keluar dari Panti Asuhan karena takut bertemu laki-laki yang sudah antri menunggu untuk mencumbu tubuhmu. Maafkan aku Nit, aku telah begitu banyak memberimu dosa.

Kenyataan yang terjadi kemudian sangat berbeda dengan apa yang pernah kusesalkan. Aku tetap tak bisa menahan diriku setiap kali berdekatan dengan gadis kecil itu. Aku terus saja memberinya dosa, aku terus saja memberinya kebahagiaan semu dan dia semakin terperosok ke dalam mimpi-mimpinya tentang pangeran dan istananya, tentang masa depan dan keluarga yang akan dimilikinya. Nita sama sekali tidak menyadari bahwa kebersamaan ini akan ada batas akhirnya, bahkan sebelum dirinya siap untuk kubawa serta. Umurnya masih terlalu belia. Aku tak akan mungkin memperistri seorang perempuan yang umurnya terpaut sangat jauh dariku. Apa kata orang tua dan saudara-saudaraku nanti, apa kata teman-temanku nanti. Aku sungguh tak tahu harus bagaimana untuk mengakhiri semua ini sementara aku juga masih sangat membutuhkan kehadiran gadis kecil ini untuk mengisi hari-hariku yang sepi di kota kecil ini. Sungguh memalukan.

Semua kekhawatiran itu akhirnya sampai pada puncaknya. Bos besarku di kota tiba-tiba menelponku dan memintaku untuk kembali lebih cepat dari batas waktu yang telah disepakati di dalam surat kontrak kerja. Dia memberiku waktu satu minggu untuk menyelesaikan semua urusanku di kota kecil ini. Apa yang harus aku katakan kepada gadis kecil itu tentang kabar ini. Aku tak mau menambah lagi atribut buruk pada diriku. Sudah cukup selama ini aku menganggap diriku sebagai laki-laki bajingan, laki-laki pengecut dan tak tahu malu, aku tak mau ada lagi citra buruk yang nanti kutinggalkan untuk gadis kecil itu. Tapi harus bagaimana mengatakan semua ini kepadanya. Dalam hati kecilkupun aku berat untuk meninggalkannya. Aku khawatir membuat gadis itu percaya bahwa dia memang ditakdirkan untuk selalu hidup menderita, aku khawatir akan membuat gadis itu percaya bahwa selama ini Tuhan memang tidak sayang kepadanya. Ah, kepalaku menjadi pusing sekali memikirkan pertemuan esok pagi dengan gadis kecil itu.

Esok paginya kumasuki ruangan kerjaku dengan langkah sedikit berat. Kulihat gadis kecil itu sudah di sana, duduk menghadapi sebuah komputer yang sudah beberapa bulan ini diakrabinya.

“Pagi pangeranku”, sapanya begitu dia tahu kehadiranku. Aku tidak menjawab. Seperti pagi-pagi sebelumnya, secangkir kopi panas sudah ada di mejaku.

“Itu kopi paling istimewa yang Nita buatkan untuk pangeranku”

“Terimakasih”, jawabku singkat. Aku duduk sambil memandang kosong ke arahnya.

“Nit, ada yang ingin kakak katakan kepadamu” akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutku setelah sekian menit aku hanya duduk memandanginya.

“Bilang saja, aku akan mendengarkan”, jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang ada di hadapannya.

“Hm.....kakak.....kakak........hmm.....”

“Kakak mau ngomong apa, kok jadi aneh begitu, biasanya kakak tidak pernah malu-malu berbicara kepadaku”

Aduh Nit, kamu itu kok nggak bisa membedakan sih mana yang malu-malu dan mana yang ragu-ragu. Aku tuh sedang ragu apakah harus mengatakan kabar itu kepadamu atau tidak. Aku jadi menghela nafas panjang memikirkan keluguannya itu.

“Oke....oke, sekarang aku akan serius deh ngedengerin kakak ngomong”, gadis itu akhirnya menghentikan aktivitasnya di depan komputer dan memutar letak kursinya menghadap ke arahku.

Aku bisa melihat cinta itu begitu besar dari sorot matanya ketika memandangku. Aku jadi semakin tak tega untuk menyampaikan kabar itu kepadanya.

“Nit, minggu depan kakak harus pulang ke kota, ada pekerjaan yang harus kakak kerjakan di sana”,

“Lama?”, gadis itu bertanya dengan nada hambar.

“Bisa jadi memakan waktu yang lama”, jawabku berat. Tenggorokanku tiba-tiba saja menjadi kering. Kuhirup sedikit kopi yang dia buat untukku.

“Aku pasti akan merasa kesepian sepanjang kepergian kakak”, ucapnya getir.

“Kakak juga pasti akan sangat merindukanmu selama di sana nanti”

Selama beberapa menit baik aku maupun dia tak lagi berkata-taka, asyik tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi dan langsung meraih kedua tangannya. Kugenggam erat kedua tangannya yang terasa dingin. Kucoba untuk meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan entah setan apa yang merasuki tubuhku, saat itu juga kusetubuhi dia, kubenamkan dia ke dalam lumpur dosa yang penuh dengan percikan api. Dia terbakar dalam kobaran baranya ketika aku mulai melucuti pakaiannya. Gadis kecil itu dengan bahagia memberikan semuanya untuk aku laki-laki yang dicintainya, laki-laki bejad yang bersembunyi di balik topeng ketampanannya, laki-laki munafik yang menggunakan sifat kebapak-an untuk merebut simpati gadis kecil yang memang sudah lama merindukan figur seorang bapak hadir dalam hidupnya. Aku menangis melihat kebahagiaan terpancar di wajahnya yang bersimbah keringat. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu sambil membelai mesra wajahku. Airmataku deras mengalir. Ah airmata serigala, airmata buaya, airmata kemunafikan. Inginnya aku berteriak, inginnya aku membalik waktu sehingga bisa kuperbaiki semua kesalahan yang tak seharusnya aku lakukan terhadap gadis kecil ini. Namun semua penyesalan itu tak ada guna lagi. Aku telah menitipkan sebuah benih pada rahim gadis itu meski aku tak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi pada benih itu setelah kepergianku nanti. Gadis kecil ini pasti juga tidak tahu apa akibat dari perbuatan yang telah kami lakukan ini, yang pasti ini akan membuat masa depannya menjadi suram, akan membuat masa remajanya berakhir sebelum dia sempat menikmatinya bersama teman-temannya. Membayangkan semua itu membuatku menjadi semakin frustasi. Dosaku tak mungkin lagi terampuni, tak akan ada orang yang mau memaafkan kesalahan dari laki-laki seperti aku ini. Maafkan aku Nit, maafkan aku karena telah mengotori kesucianmu, telah menodai kehormatanmu. Gadis itu memelukku erat, mengira airmataku adalah airmata kebahagiaan.

Pagi ini, langit sedikit mendung. Mungkin alam tahu bagaimana perasaanku pagi ini. Satu jam lagi aku akan berangkat meninggalkan kota kecil yang telah memberikan banyak kenangan kepadaku. Satu jam lagi, aku akan meninggalkan gadis kecil yang telah memberiku banyak kebahagiaan dan satu jam lagi aku akan meninggalkan kepedihan dan kesengsaraan sepanjang hidup gadis kecil ini. Dengan tegang, Nita duduk di sampingku. Tangannya memilin-milin ujung bajunya yang berenda. Sebentar-bentar pandangannya mengarah pada jalanan. Seperti aku, dia pun pasti berharap semoga mobil yang akan menjemputku tak jadi datang hari ini. Tapi harapan itu harus pupus, manakala setengah jam kemudian sebuah caravel memasuki halaman rumah yang selama tiga tahun ini aku jadikan sebagai rumah dinasku. Satu persatu barang-barangku diangkut ke dalam mobil diiringi airmata yang mulai menetes di pipi Nita. Wajahnya sangat murung dan matanya menyiratkan ketakutan. Kupeluk gadis kecil itu untuk yang terakhir kalinya dan kubisikkan janji-janji manis untuknya. Ah sekali lagi gombal, munafik, kukutuk diriku sendiri karena aku tahu, aku tak akan pernah kembali lagi ke kota ini untuk waktu yang sangat lama.

**************

Lima tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan kotak kecil ini. Selama itu pula tak sekalipun aku pernah mengiriminya kabar. Mungkin aku memang laki-laki yang paling jahat di dunia ini, tanpa beban sedikitpun justru aku membina rumah tangga dengan perempuan lain yang usianya sepantaran denganku. Dari pernikahan itu aku dikaruniai dua anak yang lucu-lucu. Tetapi hari ini, aku menginjakkan lagi kakiku di kota kecil ini. Mau tidak mau aku harus mencari tahu kabar tentang gadis kecil itu yang mungkin sekarang sudah berubah menjadi seorang gadis dewasa. Masihkah dia cantik dan menggairahkan seperti dulu?, masihkah matanya menyorotkan keriangan seperti gadis belia pada umumnya? Ataukah sudah berubah menjadi sorot mata yang penuh dendam ketika memandang kepada laki-laki yang mencoba mendekatinya? Di depan pintu panti asuhan aku disambut oleh bocah laki-laki berumur sekitar 5 tahunan yang memiliki sorot mata yang sepertinya sudah tidak asing lagi buatku. Mengingatkan aku pada gadis kecilku dulu. Melihat perawakannya sepertinya aku melihat foto diriku ketika aku masih kecil yang ada di dalam album foto yang masih disimpan ibuku hingga kini.

“Selamat sore om”, laki-laki kecil itu menyapaku dengan ramah.

“Selama sore juga sayang, siapa namamu bocah manis?”

“Nabil om”

“Nabil?, nama itu sama dengan nama belakangku.

Layaknya menyambut kedatangan ayahnya, bocah laki-laki itu langsung menggelayut di tanganku. Aku jadi terharu. Kasihan sekali anak ini. Pasti selama hidupnya dia tidak pernah bertemu dengan sosok laki-laki yang bernama ayah.

“Nabil, mau om ajak jalan-jalan?”, kita akan naik mobil keliling kota.

Bocah kecil itu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa? Atau Nabil mau om belikan mainan?”

Bocah kecil itu kembali menggelengkan kepalanya.

“Nggak apa-apa sayang, om punya banyak uang kok, nih lihat di dompet uang om banyakkan?”, kataku sambil memperlihatkan isi dompetku.

“Benarkah Nabil boleh meminta sesuatu kepada om?”, tanyanya dengan tatapan mata menghiba.

“Tentu, Nabil boleh meminta apa saja dari om”

“Nabil cuma ingin minta..........hhm.....”

“Apa?, ayo katakan saja sayang”

“Hm...bolehkah Nabil memanggil ayah pada om?”

Ya Tuhan, seketika keharuan berhamburan dari mataku. Dengan mata berkaca-kaca kupeluk bocah kecil itu. “Nabil boleh memanggil ayah pada om. Mulai sekarang om akan menjadi ayah untuk Nabil. Nah sekarang Nabil ingin ayah belikan apa, mainan atau baju baru?”

Bocah kecil itu menggelengkan kepalanya lagi.

“Ayah sudah memberi Nabil sesuatu yang sangat berharga. Nabil nggak mau lagi merepotkan ayah”, ucapnya sungguh-sungguh.

“Tidak apa-apa sayang, ayah akan senang memberikannya untuk Nabil”, kataku gemas.

“Betul, ayah tidak keberatan?” Aku mengangguk.

“Nabil cuma minta ayah bawakan untuk Nabil foto kakak dan adik Nabil. Akan Nabil perlihatkan kepada teman-teman bahwa Nabil punya saudara”, ucapnya dengan polos.

Untuk kedua kalinya aku telah dibuat terharu oleh ucapan-ucapan bocah laki-laki ini. Aku kembali memeluknya dan berjanji untuk memberikan kepadanya foto anak-anakku. Di saat itulah seorang perempuan tua keluar dari dalam panti asuhan. Aku masih mengenalinya sebagai ibu yang memimpin panti asuhan ini. Diapun rupa-rupanya masih pula mengenaliku. Matanya tajam menatap ke arahku. Ada kemarahan terpancar di sana. Aku melepaskan pelukanku dari Nabil dan berjalan menghampiri perempuan itu.

“Apa kabar bu?” sapaku kepadanya.

Perempuan tua itu tak menjawab. Gemerutuk gerahamnya terdengar hingga ke telingaku. Perempuan tua itu sepertinya menahan amarah yang sangat besar hingga rahangnya terlihat mengeras.

“Oma, sekarang Nabil sudah punya ayah. Om ini mau menjadi ayah Nabil”, tiba-tiba bocah kecil itu berkata seraya memeluk tubuh perempuan itu.

“Tidak Nabil, om ini bukan ayahmu. Dia tidak pantas menjadi ayahmu”, perempuan itu berkata dengan tegas. Aku sampai kaget mendengar ucapannya.

“Tapi oma, om ini sudah mau menjadi ayah Nabil”

“Jangan nakal Nabil, sekali oma bilang tidak, maka tidak”

“Tidak apa-apa bu, saya senang menjadi ayah Nabil”, kataku membela Nabil.

“Tidak, saya tidak akan ijinkan kamu mendekati anak ini”

Nabil mulai menangis dan memohon-mohon kepada perempuan tua itu, dan tanpa kusangka-sangka perempuan tua itu juga ikut menangis. Aku menjadi semakin bingung dan tak menyangka bahwa semua akan menjadi rumit seperti ini. Perempuan tua itu lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi setelah kepergianku dari kota ini lima tahun yang lalu. Kakiku seperti tak menapak di lantai ketika kutahu Nita akhirnya meninggal ketika melahirkan benih yang dulu kutanamkan di rahimnya. Dan bocah laki-laki ini tak lain adalah darah dagingku sendiri. Aku benar-benar terpukul setelah mendengar semua cerita perempuan itu. Aku tak bisa menahan tangisku. Aku terus menangis sambil memeluk bocah kecil itu. Pantaslah jika Nita memberinya nama Nabil, itu adalah nama belakangku.

Setelah memohon-mohon kepada ibu pemimpin panti asuhan, akhirnya aku diijinkan untuk membawa Nabil pulang ke kotaku. Belum terpikir olehku bagaimana cara memperkenalkan Nabil kepada istri dan keluargaku. Aku tak mau ambil pusing tentang itu, yang terpenting sekarang aku tak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya dengan menyia-nyiakan darah dagingku sendiri. Aku ingin melakukannya untuk menebus dosa-dosaku kepada Nita, gadis kecil tak berdosa yang telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan buah cintanya. Nabil adalah reinkarnasi dari gadis kecil yang dulu telah kuterlantarkan dengan timbunan dosa yang tak termaafkan. Maafkan aku Nita, sungguh hingga detik ini aku tetap mencintaimu. Semoga engkau damai di sisiNya. Kutaburkan kamboja putih di atas pusaranya sebelum meninggalkan kota kecil ini.

Depok, 10 Desember 2007

ANISA GADIS SHALEHAH


Gadis shalehah, julukan itu pantas kuberikan untuk gadis berparas cantik yang setiap tengah malam kulihat keluar dari salah satu kamar di komplek asrama putri yang ada di lingkungan Pondok Pesantren ini. Hampir tiap malam aku bersama beberapa santri laki-laki mendapat jadwal berkeliling untuk menjaga keamanan lingkungan Pondok Pesantren, dan tiap kali aku melewati deretan asrama putri ini aku selalu melihat gadis itu, entah baru akan keluar dari kamar ataupun baru saja mau masuk ke dalam kamar. Karena dihantui oleh rasa penasaran yang teramat sangat, pernah suatu malam dengan sengaja aku dan salah satu dari temanku mengikuti kemana perginya gadis itu, ternyata dia pergi ke kamar mandi yang letaknya lumayan jauh dari asrama. Padahal untuk mencapai kamar mandi yang berderet panjang mirip gerbong kereta api itu, dia harus melewati rumpun bambu yang sangat gelap yang konon menurut cerita, sangat angker. Belum lagi suasana di kamar mandi yang juga gelap karena memang tidak diberi akses penerangan sedikitpun. Entah kenapa, pengelola pondok tidak memberi penerangan di bilik-bilik kamar mandi itu. Barangkali ingin menguji nyali para santrinya. Kami yang setiap malam berkeliling untuk ronda sering mendengar suara-suara aneh dari bilik-bilik kamar mandi itu. Terkadang seperti suara perempuan yang sedang menangis, bahkan salah satu dari temanku pernah melihat ada kepala melayang-layang di belakang bangunan kamar mandi itu. Menurut cerita dari santri-santri yang sudah senior, beberapa tahun yang lalu ada santri putri yang bunuh diri di salah satu bilik kamar mandi itu karena ketahuan hamil di luar nikah. Sedangkan di rumpun bambu itu, kira-kira setengah tahun yang lalu salah seorang santri putri pernah dibuat pingsan oleh suara ringkikan kuda. Ketika ditoleh, ternyata di sana berdiri seekor kuda lengkap dengan kereta kencananya yang tengah membawa keranda mayat. Kisah kereta kencana membawa keranda mayat itu memang tidak hanya terjadi di rumpun bambu itu saja, santri putra yang sering bertafakkur di dalam masjid juga sering melihat ada kereta kencana yang ditarik seekor kuda putih tengah melintas di depan masjid dengan keranda mayat di atasnya. Dahulu daerah tempat pondok pesantren ini berada adalah tempat markasnya Pangeran Diponegoro. Masjid yang ada di komplek ini juga menurut ceita adalah masjid peninggalan Pahlawan yang identik dengan kuda dan surban di kepalanya itu. Jadi ya mungkin saja kalau ada kejadian-kejadian aneh seperti yang diceritakan itu. Kuda dan kereta kencana yang sering terlihat itu juga mungkin milik Pangeran Diponegoro. Wallahua’lam deh, aku sendiri alhamdulillah belum pernah ketemu sama yang begituan. Tapi terus terang saja, sampai detik ini aku belum berani berjalan sendirian di tengah malam mengelilingi komplek pondok pesantren ini. Entahlah, selalu ada perasaan tidak enak ketika menatap pada tempat-tempat yang gelap di sekeliling pondok ini. Padahal sudah hampir lima tahun aku menjadi santri di sini. Untung saja tidak ada yang menyebutku si penakut.
Tapi tampaknya gadis yang satu ini tidak memiliki rasa takut sedikitpun terhadap cerita-cerita menyeramkan itu. Setiap malam antara jam dua sampai jam tiga pagi dia keluar dari kamarnya. Tanpa rasa canggung sedikitpun dia berjalan, dan setiap melewati rumpun bambu itu, kepalanya pasti celingak-celinguk seolah-olah ingin memastikan apakah ada sesuatu yang mencurigakan dari balik pepohonan bambu yang menjulang tinggi di hadapannya itu sambil kakinya terus berjalan. Kepergian gadis itu setiap malam ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu untuk melaksanakan shalat tahajut. Aku tahu karena pernah suatu saat tanpa sengaja dari balik tirai jendela kamarnya yang terbuka sedikit, aku melihatnya sedang shalat. Di saat lain, aku melihat dia sedang duduk bertafakur sambil memegang tasbih. Sungguh luar biasa, hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk menunjukkan rasa salutku kepadanya. Di saat santri-santri lain sedang tertidur lelap, gadis itu dengan khusyu’ menjalankan ibadah, berzikir mengucap asma Allah.
Nggak salah kan kalau akhirnya ada perasaan kagum pada diriku terhadap gadis itu. Karena perasaan kagum yang begitu besar terhadapnya, aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang gadis itu kepada teman-teman di bagian penerima tamu yang sering mondar-mandir ke asrama putri. Informasi yang aku dapat, selain rajin menjalankan ibadah di malam hari, gadis yang kutahu bernama Annisa itu juga rajin sekali menjalankan ibadah di pagi hari. Shalat dhuha tak pernah ditinggalkannya. Selain itu ternyata dia memiliki otak yang cerdas dan wajah yang cantik serta kulit yang putih. Untuk informasi yang terakhir ini, aku sendiri merasa perlu untuk membuktikannya. Maklum, kalau malam kan warna kulitnya nggak terlihat jelas, apalagi dibalut busana yang serba panjang. Berhari-hari aku bolak-balik ke dapur umum di saat jam makan tiba. Entah itu pada saat jam makan pagi, siang atau malam. Hanya satu tujuanku yaitu berharap bisa bertemu dengannya di sana. Benar saja, setelah hampir seminggu aku menunggu kesempatan itu, akhirnya aku bisa berpapasan langsung dengan gadis itu di dapur. Wajahnya cantik meski hidungnya tidak terlalu mancung. Dari kulit tangannya yang terlihat, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia memang memiliki kulit yang putih dan mulus. Saat itu bola matanya yang indah sempat beberapa detik menatapku. Aku mencoba tersenyum dan tak kusangka dia membalas senyumku. Ala maaak....rasanya seperti habis makan duren saja saat itu. Nikmat dan hmm....enak sekali. Sejak itu aku jadi semakin tertarik ingin berkenalan dengannya.
Suatu malam aku memberanikan diri untuk menyapanya ketika kami berpapasan di samping kamar mandi. Memang aku sengaja menunggunya di sana.
“Anisa ya”
“Eh kok tahu namaku”
“Tahu dong, kan cuma satu santri putri bernama Anisa yang punya nyali besar untuk bangun tiap malam, pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu”
“Lho, kok tahu juga kebiasaanku, suka ngintip ya”
“Iya ngintip dari jauh”
“Tapi nggak ngintip apa yang aku kerjakan di dalam kamar mandi kan?”
“Ih...porno deh, emang aku kurang kerjaan ngintip orang lagi hik....hik.....”
“Ih, kamu tuh yang porno”
“Maksudku orang yang lagi wudlu non, ngeres aja deh otaknya”
“Stt....jangan keras-keras ngomongnya, nanti kalau pak Kyai bangun bisa berabe kita, beliau akan menyangka kalau kita sedang berbuat yang tidak-tidak di sini”
“Biarin aja, kan biar sekalian dikawinin”
“Ih siapa yang mau kawin sama kamu”
“Jangan begitu, besok-besok kamu bisa kangen lho sama aku”
“Ih...sok pede banget sih kamu”
“Eh kamu nggak takut malam-malam jalan sendirian ke kamar mandi, padahal di sini kan sering ada penampakan, apalagi di rumpun bambu yang ada di sebelah sana itu”
“Ya bismillah ajalah, buktinya aku belum pernah digangguin tuh”
“Kalau sekarang ada yang nggangguin mau nggak?”
“Ya nggak dong”
“Kalau hantunya maksain untuk gangguin gimana dong?”
“Mana ada hantu mau ngganggu kok bilang dulu”
“Ini hantu baik”
“Kalau baik seharusnya kan nggak ganggu orang”
“Habis hantunya nggak tahan sih lihat gadis cantik jalan sendirian tiap malam”
“Stt.... udah ah, kalau hantunya mau gangguin jangan sekarang ya, soalnya aku mau buru-buru nih. Tolong bilangin, Annisa minta maaf karena nggak mau diganggu sekarang ya”
Aduh, makin gemes aja aku lihat tingkahnya itu. Akhirnya aku harus cukup puas dengan mengantarnya kembali ke kamarnya. Dan sejak malam itu, aku rela menjadikan diriku sebagai pengawal pribadinya, semoga saja Allah juga memberikan pahala kepadaku karena telah mengawal orang yang mau menjalankan ibadah.
Tak puas hanya menjadi pengawal pribadinya, suatu hari aku memberanikan diri untuk mengiriminya sepucuk surat. Dalam surat itu aku utarakan perasaan sukaku kepadanya yang selama ini aku pendam. Dia tidak langsung menjawabnya. Berhari-hari aku terus menunggu balasan surat darinya. Selama itu pula setiap malam aku masih terus mengawalnya. Tapi aneh, tak sedikitpun dia membicarakan soal surat itu ketika kami bercakap-cakap. Aku masih bersabar, mungkin dia harus melakukan shalat istikharah terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah akan menerima cintaku atau tidak. Aku tak mau mendahului dengan bertanya, khawatir ada kesan memaksa. Bisa-bisa malah membuat dia merasa tidak nyaman. Seminggu, sebulan, aku terus menunggu balasan surat darinya, namun dia sepertinya tidak perduli. Akhirnya kutulis lagi sepucuk surat dengan maksud menanyakan jawaban dari surat pertama yang pernah aku kirimkan. Alhamdulillah, akhirnya penantianku membuahkan hasil. Gadis itu membalas suratku. Tapi sayang, dia belum bisa menerima cintaku. Meski kecewa aku tak lantas menjauhinya. Aku tetap menemuinya setiap malam, dengan begitu aku berharap suatu saat hatinya akan luluh dan mau menerima cintaku.
***********
Hari jum’at, adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh para santri, karena di hari itu seluruh santri boleh ijin bepergian keluar komplek pondok pesantren atau santri boleh menerima tamu siapapun di ruang tamu pondok yang memang sudah disediakan. Satu hari jum’at yang entah tanggal berapa waktu itu aku lupa tepatnya , yang jelas hari jum’at itu benar-benar merupakan hari keberuntunganku. Pagi itu, iseng aku pergi ke ruang tamu. Sebenarnya sih sekalian mau minum kopi nasgitel (panas, legi, kentel) di warung yang ada di sebelah ruang tamu. Di warung itu aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah menikmati kopi. Aku tersenyum kepadanya dan dia membalas senyumanku dengan anggukan kepala. Singkat cerita, setelah bercerita panjang lebar, kami kemudian menjadi akrab. Sebenarnya sih aku yang berusaha mengakrabkan diri, karena aku tahu laki-laki itu ternyata adalah bapaknya Anisa, yang memang sengaja datang ke pondok untuk menjenguk anaknya. Kebetulan sekali yang menjadi anaknya adalah gadis cantik yang selama ini telah mencuri hatiku. Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Kalaupun belum bisa mengambil simpati anaknya, apa salahnya mencoba langsung ke bapaknya. Dan ternyata usahaku memang tidak sia-sia. Laki-laki itu mulai menaruh kepercayaannya kepadaku, di hadapan Anisa yang ketika datang terlihat terkejut mendapatiku telah berakrab-akrab ria dengan bapaknya, laki-laki itu mengucapkan kalimat yang membuat hatiku melambung hingga tinggi di awan. “Nak, bapak titipkan putri bapak, Anisa kepada nak Arman ya. Tolong kalau ada masalah atau Anisa sedang perlu bantuan, mohon dibantu”, begitu ucapan bapaknya kepadaku. Tentu saja aku tidak keberatan menerima amanat itu. Siapa sih yang tidak senang dititipi seorang gadis cantik. Aku lantas menjawab “iya” dengan penuh semangat. Anisa pun sepertinya tidak keberatan, sedikitpun dia tidak memprotes sikap bapaknya itu. Dia kan gadis shalehah. Di hatinya jauh dari segala buruk prasangka dan dia lebih menomorsatukan baktinya kepada orang tua daripada memikirkan perasaannya sendiri. Sejak saat itu, jalan terbuka bagiku untuk selalu berhubungan dan menjalin komunikasi dengan Anisa. Ada saja alasanku untuk mengajaknya bertemu, sekedar menanyakan kabarnya, kabar keluarganya, atau membahas tentang segala persoalan yang menyangkut pelajaran atau agenda-agenda yang akan dikerjakannya. Meski setiap malam aku tetap rajin menyapanya tapi kan waktunya hanya sesaat saja, tidak bisa bebas berbicara. Jadi hampir setiap hari jum’at aku mengajaknya ketemuan. Kalau dia punya acara keluar pondok aku juga mencari-cari alasan agar bisa juga keluar. Ada satu pelajaran yang menurut dia sulit untuk diikuti yaitu speak english. Entah ini kebetulan atau memang Tuhan memberikan jalan untukku untuk terus berdekatan dengannya, kebetulan banget aku sangat menguasai pelajaran ini. Jadilah kemudian dia rajin berguru kepadaku dan aku senang banget karena waktuku bersamanya menjadi semakin lama dan semakin sering. Yang paling penting, jadi ada semacam legalitas kenapa kami harus selalu bertemu. Siapa tahu kan dari seringnya kami bertemu menumbuhkan cinta di hati gadis itu. Pertemananku dengan Annisa yang terlihat begitu dekat, akhirnya menjadi buah bibir di kalangan teman-teman santri. Banyak yang menganggap bahwa kami memang sepasang kekasih. Aku sih senang-senang saja kalau mereka beranggapan begitu. Dengan begitu kan nggak ada yang berani mendekati Annisa. Anisa sendiri tidak ambil pusing dengan anggapan-anggapan itu. “Biar aja lah mas, mereka menganggap kita ini apa, selama tidak merugikan kita, ya fine aja”, jawabnya ketika kutanyakan pendapatnya. Aku sendiri dibuat bingung oleh sikap Anisa ini. Sebenarnya seperti apa sih perasaan dia kepadaku. Kalau dia tidak mau menerima cintaku tetapi kenapa juga tidak marah ketika dituduh telah berpacaran denganku. Apakah saking baiknya hatinya dan tidak mau berprasangka buruk kepada orang lain sehingga dia mengikhlaskan apapun yang dikatakan orang tentang dirinya. Entahlah, yang jelas kekagumanku kepadanya menjadi semakin bertambah dan keinginan untuk bisa memilikinyapun bertambah kuat, meski pada akhirnya waktu yang terus berjalan tak memberikan jawaban yang membahagiakan buatku. Masaku menjadi santri di pondok telah usai. Aku harus keluar pondok untuk meneruskan perjalanan hidupku, menentukan masa depanku. Sementara Annisa masih membutuhkan waktu beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikannya di Pondok. Ketika kami bertemu untuk mengucap kata perpisahan, kuungkapkan sekali lagi isi hatiku kepadanya. Namun jawabannya tetap sama, dia belum bisa menerima cintaku karena tidak ingin pacaran. Ketika kudesak untuk mengatakan perasaannya kepadaku dia hanya menjawab bahwa dia sangat respek kepadaku dan senang bergaul denganku. Aku harus cukup puas dengan jawaban itu. Di akhir pertemuan, aku hanya berpesan, jika suatu saat dia telah siap untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, aku ingin akulah pria pertama yang dia tawari untuk menjalin hubungan dengannya. Dia mengangguk meski dengan wajah menunduk.
******************
Komunikasi terus aku lakukan dengan Annisa meski kami hidup berjauhan. Entahlah, sepertinya hatiku tak bisa lepas dari gadis itu. Bayangan wajahnya selalu menghiasi mimpi-mimpiku dan memadati lembar-lembar buku kuliahku. Padahal di kampus tempatku kuliah ada ratusan gadis yang tak kalah cantiknya dengan Annisa, namun hatiku tak mampu untuk berpaling dari cinta Annisa. Hari-hariku terus dibayangi oleh keshalehan dan kebaikan gadis itu. Hatiku benar-benar terbakar oleh api kerinduan terhadapnya. Surat maupun komunikasi yang kami jalin lewat telpon tak mampu memadamkan kerinduanku kepadanya. Hingga suatu saat ketika libur kuliah aku memutuskan untuk mengunjunginya. Annisa sempat kaget ketika sudah berada di ruang tamu dan tahu bahwa akulah tamu yang ingin menemuinya. Sempat tertangkap olehku binar kebahagiaan terpancar di matanya dan itu membuatku sangat senang karena ternyata dia masih wellcome terhadapku. Kugenggam dengan erat jemarinya ketika kami berjabat tangan. “Bagaimana kabarnya Nisa”, tanyaku dengan suara berat karena menahan gemuruh hasrat di dadaku.
“Baik, mas sendiri kelihatannya juga sehat. Aku benar-benar nggak nyangka lho kalau yang datang ternyata mas Arman”
“Aku memang sengaja tidak memberitahumu dulu karena khawatir kamu tidak mau menerima kunjunganku”
“Mas bisa aja. Mosok sudah jauh-jauh datang tidak dihargai. Itu namanya tidak menghormati tamu”
“Alhamdulillah. Gimana bahasa Inggrisnya, pasti sekarang sudah sangat lancar ya. Setelah aku nggak ada, Anisa belajarnya dengan siapa?”
“Alhamdulillah, berkat dulu rajin bertanya sama mas Arman, sekarang aku mulai menguasai pelajaran itu. Belajarnya ya sama teman-teman saja, kan gurunya sudah tidak di sini”, jawabnya sedikit bergurau.
Lega rasanya hatiku mendengar jawaban itu. Aku sangat khawatir jika sepeninggalku dia mencari santriwan lain untuk mengajarinya bahasa Inggris.
“Kuliahnya gimana mas, enak nggak kuliah?, jangan-jangan pelajarannya lebih susah dari di sini”
“Kuliah itu asyik, lebih santai. Tapi karena harus berjauhan sama kamu, aku jadi tersiksa setiap hari”
“Mas Arman bisa aja ih. Masih seperti dulu, belum berubah. Sukanya terus menggoda orang”
“Aku sungguh-sungguh Nisa. Aku nggak pernah main-main memendam perasaanku kepadamu. Kamunya aja yang nggak sensitif. Tega banget sih kamu manyiksa aku”
“Stop.....stop...., ih kok mas jadi nyalahin orang”
“Ya iya dong. Habis percuma kamu rajin ibadah tapi hobinya menyiksa perasaan orang. Ibadahnya nggak diterima tau’”
“Ih....nyebelin banget sih. Dari dulu itu saja yang mas katakan. Terus maunya mas gimana?”
“Mauku?, benar nih mau tahu mauku”
Anisa mengangguk sambil menunduk.
“Mauku, dari dulu sampai sekarang, nggak pernah berubah sedikitpun, aku mau kamu menerima cintaku, menjadi pacarku”
Annisa diam. Dia benar-benar diam dan tak mau menatapku. Setengah jam berlalu, dia tetap membisu. Satu jam hampir berlalu dia masih diam. Akhirnya aku berdiri. Kusangkutkan tas ransel ke pundakku. Lalu aku pamit untuk pergi shalat jum’at sekaligus pulang. Annisa tetap diam. Aku berjalan dengan membawa rasa kecewa dan kepedihan di hati karena Annisa benar-benar tak mau membalas cintaku. Namun ketika baru sampai di ambang pintu. Tiba-tiba gadis itu bersuara. “Kita ketemu lagi setelah shalat jum’at di sini”
“Untuk apa?”, tanyaku tanpa menoleh kepadanya.
“Untuk menyatukan dua keping hati yang selama ini terpisah”, setelah mengatakan itu Annisa berlari pergi. Tiba-tiba hidupku menjadi penuh semangat. Akhirnya harapan itu terkabul. Aku melangkah dengan seulas senyum meninggalkan ruang tamu menuju masjid.
Setelah kunjungan yang melahirkan sebuah komitmen itu, tiap dua bulan atau tiga bulan sekali kuluangkan waktu untuk mengunjunginya. Menumpahkan rasa kangenku kepadanya. Kata teman-teman yang masih berada di Pondok, Annisa tetap seperti yang dulu, tiap malam masih rajin melakukan rutinitasnya. Aku senang mendengarnya, berarti keshalehan gadis itu tidak perlu diragukan lagi. Tentu gadis seperti itulah yang didambakan setiap laki-laki untuk kelak dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Aku terus berusaha memupuk cinta gadis itu kepadaku dengan tetap rajin mengunjunginya. Ada kalanya aku menjemputnya untuk keluar pondok. Kami pergi melihat pameran atau belanja keperluannya.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Annisa, dan selama itu tak sedikitpun ada rasa bosan untuk terus bolak-balik dari kota tempatku kuliah ke pondok untuk mengunjungi dan melepaskan rasa kangenku kepadanya. Sampai akhirnya batas waktu dia nyantri di pondokpun telah selesai. Dia memutuskan untuk meneruskan kuliah di kota yang sama denganku. Alasannya biar aku tidak perlu pergi jauh-jauh lagi untuk mengunjungiku. Namun dia tidak mau ketika kutawarkan untuk kuliah di perguruan tinggi yang sama denganku dan mencari kost yang jaraknya dekat dengan tempat kostku. Dia khawatir jika kami selalu berdekatan, malah akan semakin mendekatkan kami kepada fitnah. Meski terpaksa aku harus menyetujui pendapatnya. Itu resiko yang harus aku tanggung karena telah berpacaran dengan gadis shalehah. Ada baiknya juga, karena dengan begitu, akan selalu ada rasa rindu untuk bertemu dengannya. Lagi pula kekhawatiran dia sangat beralasan karena setiap kali berdekatan dengannya rasa kelelakianku sepertinya langsung bangkit, dengan sekuat tenaga aku selalu berusaha untuk membendungnya. Aku tak mau membuat gadis itu merasa tidak nyaman ketika berdekatan denganku. Sejak menjalin hubungan dengannya, belum sekalipun aku pernah merasakan manisnya madu yang terselip di kedua bibirnya. Jangankan untuk mencium bibirnya, mengelus pipinya pun aku belum pernah melakukannya. Pernah suatu hari aku memintanya dan dia menolak dengan halus. Waktu itu dia bilang kalau suatu saat nanti dia pasti akan menyerahkan seluruh dirinya kepadaku. Rasanya lama sekali menunggu saat itu tiba. Sementara pesona yang memancar dari dirinya seolah-oleh memanggil para setan yang memang sudah lama mengelilingiku untuk segera melancarkan agresi. Salah satu teman kostku pernah bercerita ketika pertama kali dia mencium pacarnya, pacarnya itu menamparnya. Tapi kejadian seperti itu hanya sekali saja terjadi, karena untuk selanjutnya justru pacarnyalah yang meminta untuk dicium. Lebih gilanya, lama kelamaan tidak hanya ciuman saja yang diberikan pacarnya itu kepada temanku, tapi apapun yang diinginkan oleh temanku itu, sang pacar tak pernah bisa menolaknya. Hanya satu saja yang belum mereka lakukan yaitu berhubungan badan. Temanku itu memang gila. Tapi aku tidak mau mengikuti caranya, pacarku kan tidak seperti pacarnya. Iya kalau cuma ditampar, kalau kemudian dia memutuskan hubungan kan bisa berabe. Bisa beneran gila aku nanti. Biarlah Annisa tetap seperti Annisa yang pertama kali aku kenal dulu. Kalau dia bisa menjadi gadis yang shalehah, kenapa aku tidak bisa menjadi lelaki soleh, meskipun hanya di hadapannya.
Tuhan memang maha mendengar dan maha penyayang terhadap umatnya yang mau berdoa dan meminta. Kesempatan itu akhirnya datang juga meski dengan cara yang sama sekali tidak kami inginkan. Tapi pada setiap peristiwa yang terjadi, Tuhan pasti tidak lupa menyelipkan hikmah yang bisa kita petik. Sore itu setelah aku pulang dari mengunjunginya di kostnya, tiba-tiba Annisa menghubungi handphoneku. Suaranya terdengar serak dan sedikit menangis.
“Ada apa Nis?” tanyaku dengan dana khawatir
“Bapak mas, Bapak....” dia tak bisa meneruskan kalimatnya. Tangisnya semakin terdengar kencang.
“Kenapa dengan Bapak Nis?”, tanyaku semakin khawatir.
“Bapak kecelakaan mas, kondisinya kritis”
“Ya Allah, tenang Nis, jangan menangis begitu. Kamu yang tabah ya, kita do’akan semoga Bapak bisa melewati masa kritisnya. Aku akan segera ke tempatmu” Aku lalu memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam ranselku. Setelah menitipkan motor ke tetangga, aku bergegas mencari taksi.
Sesampainya di tempat kost Annisa, gadis itu telah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya. Airmatanya mengalir deras ketika melihat kedatanganku. Kuusap airmata yang menggenangi kedua pipinya. Itu pertama kalinya aku menyentuh pipinya. Tanganku sedikit bergetar ketika menyentuh pipi halus itu. Inilah saat yang sudah lama aku idam-idamkan, bathinku, dan entah datang darimana keberanian itu, dengan hati-hati kuraih kepalanya dan kuletakkan di atas dadaku. Tangisnyapun meledak. Bahunya berguncang keras dan aku terus mengusap pipinya.
“Sudah, jangan menangis terus, nanti malah kamu ikut-ikutan sakit lho”, ucapku sambil menegakkan kepalanya. Kutatap wajahnya yang terlihat kuyu dan dengan alasan memberinya kekuatan moril sebuah kecupan lembut kulabuhkan di bibirnya yang basah oleh airmata. Sontak dia menatapku namun tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dengan sedikit malu dia menutupi bibirnya dengan kain kerudungnya. “Maafkan aku Annisa, aku benar-benar tak tahan melihat bibirmu yang basah oleh airmatamu”
Sore itu juga, aku menemani Annisa pulang ke kampungnya. Kulihat kondisi bapaknya memang sangat parah. Menurut dokter, sangat tipis harapannuya untuk bisa hidup. Beberapa tulang iganya patah, menyebabkan laki-laki itu mengalami pendarahan yang hebat. Benar saja, setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Annisa dan keluarganya begitu larut dalam kesedihan. Bagaimana tidak, laki-laki yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tanpa disangka-sangka meninggalkan mereka begitu cepatnya. Akupun merasakan kesedihan yang sama seperti yang mereka rasakan. Dalam keadaan seperti itu kulihat Annisa semakin rajin menjalankan ibadahnya. Siang dan malam dia terus beribadah. Mungkin dengan cara itu dia berharap kesedihan yang dia rasakan bisa berkurang. Aku semakin salut dengan gadis itu. Di antara saudara-saudaranya dialah yang paling tegar menghadapi musibah itu. Padahal mungkin di dalam hati kecilnya pun dipenuhi oleh kegundahan dan kegelisahan menghadapi masa depannya yang pasti menjadi tidak jelas tanpa kehadiran sang kepala keluarga. Berpikir seperti itu membuat bulat tekadku untuk segera menikahinya. Mungkin dengan aku menikahinya aku bisa membantu keluarganya. Paling tidak untuk urusan kuliah dan kebutuhannya ada aku yang akan menanggungnya. Tokh untuk urusan nafkah lahir insya Allah aku sudah mampu. Berkat keuletanku selama ini, kini aku sudah memiliki beberapa usaha foto copy dan rental komputer yang kubuka di sekitar kampusku. Aku memang rajin mengumpulkan uang yang setiap bulan dikirim oleh orang tuaku untuk keperluan kuliahku. Maklumlah, aku kan anak semata wayang mereka. Jadi wajar saja kalau mereka tetap memanjakanku meskipun aku sudah gaek begini. Sedangkan untuk urusan nafkah bathin, he....he...., begini-begini aku kan lelaki tulen, jadi begitu mengalami yang namanya baligh, insya Allah aku sudah siap dan bisa memberikan nafkah bathin kepada istri. Aku yakin Annisa maupun keluarganya pasti akan setuju dengan rencanaku ini. Kalau orang tuaku sudah pasti setujunya. Mereka sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Annisa. Jadi Insya Allah mereka sudah cukup mengenal dengan baik calon menantunya. Menikah itu kan yang paling urgent adalah mendekatkan ibu kita dengan menantunya. Kalau ibu kita sudah bilang oke tentang calon menantu perempuannya, pasti kesananya akan lancar dengan sendirinya. Tapi kalau ibu kita bilang masih ragu, ada kemungkinan ke sananya nanti akan terjadi konflik yang berkepanjangan. Sudah banyak fakta yang terjadi di sekelilingku. Aku nggak mau hal seperti itu nanti terjadi pada hubungan antara Annisa dengan ibuku. Biar bagaimanapun akan sangat sulit bagi aku untuk berpihak kepada salah satu dari mereka. Keduanya kan sama-sama perempuan yang sangat berarti bagiku.
Berbekal keyakinan itu, pada malam setelah selesai pengajian memperingati tujuh hari meninggalnya almarhum aku mengajak bicara Annisa tentang rencanaku itu. Awalnya Annisa sedikit kaget. Dia tidak menyangka kalau secepat itu aku akan mengajaknya menikah.
“Annisa sih terserah mas saja”, jawabnya malam itu.
“Kalau begitu sekarang kita bicara saja sama Ibu, gimana?”
“Apa nggak sebaiknya mas bicara dengan keluarga mas terlebih dahulu?”
“Ya sudah, kalau begitu besok setelah aku kembali dari sini, aku akan langsung menemui mereka. Kamu juga harus bicara sama Ibumu”
“Iya mas”.
Begitulah, akhir kata baik keluargaku maupun keluarga Annisa setuju jika kami menikah. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, kami mempersiapkan semua kebutuhan untuk resepsi pernikahan kami. Meski hanya sanak suadara dan beberapa teman dekat saja yang hadir, pesta pernikahan kami berjalan dengan khidmat. Apalagi diselingi oleh isak tangis dari keluarga Annisa. Maklumlah, tentunya mereka teringat kembali kepada almarhum ayah Annisa yang seharusnya menjadi wali di pernikahan kami. Ibu Annisa bahkan sempat pingsan ketika menyaksikan akad berlangsung. Annisa sendiri berkali-kali menyebut istighfar ketika himpitan kesedihan itu menguasai hatinya. Dia memang gadis yang shalelah. Di manapun dia berada tak pernah ditinggalkannya Tuhan dari kehidupannya. Inilah istri yang aku idam-idamkan. Aku bersyukur karena pada akhirnya bisa mempersuntingnya.
Depok, 6 Desember 2007

CINTA BERSEMI DI GEMBIRA LOKA



Terkadang cinta itu datang tanpa memperdulikan tempat dan waktu. Pada moment apapun, dan dalam suasana seperti apapun, kalau memang memungkinkan maka cinta bisa saja muncul. Inilah kisah cinta yang terjadi pada pasangan yang sedang berbahagia, Mahar dan Dewi. Berawal dari perasaan yang biasa-biasa saja akhirnya berubah menjadi perasaan yang istimewa hanya karena sebuah peristiwa sentimentil. Peristiwa itu berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hati Mahar kepada gadis yang sebenarnya bukanlah sasaran utamanya. Begini ceritanya, karena harus terus menerus memendam perasaan cintanya kepada seorang gadis yang selama ini telah begitu dekat dengannya dan selalu dikaguminya tanpa berani untuk mengungkapkannya, akhirnya si gadis yang tidak menyadari kehadiran cinta di hati Mahar itu menerima cinta seorang pemuda lain. Habis bagaimana si gadis itu tahu kalau Mahar memendam rasa kepadanya kalau sinyalnya saja nggak pernah dikirimkan Mahar kepadanya. Maharpun merasa lelah dan kecewa.
Tentu saja Mahar sangat kecewa dengan keadaan ini. Terlebih-lebih lagi, pemuda yang berhasil menggaet gadis pujaannya itu hanya seorang pemuda brandalan. Tetapi dasar Mahar memang berhati baik, dia tetap berprasangka baik kepada gadis pujaannya ini. Jauh di lubuk hatinya, Mahar membuat kesimpulan sendiri, bahwa si gadis pujaannya ini punya misi yang sangat mulia terhadap pemuda berandalan itu. Pastilah karena si gadis pujaan ini berniat ingin merubah kebiasaan buruk si pemuda brandalan agar menjadi pemuda baik-baik. Maka, demi ingin selalu berada di dekat si gadis pujaan, tak perduli kalau si gadis sudah menjadi milik seseorang, Mahar tetap saja berteman baik dengan gadis pujaannya ini. Sebaliknya si gadis pujaan juga tetap menganggapnya sebagai best friend, bahkan tanpa sungkan-sungkan si gadis pujaan minta diajari beberapa ketrampilan yang dimiliki Mahar. Tentu saja dengan senang hati Mahar menyanggupi keinginan si gadis pujaan. Meski setiap kali berdekatan dengan si gadis pujaan, jantungnya berdegup keras dan sikapnya terlihat sangat grogi. Bahkan Mahar sering mencuri-curi kesempatan untuk mengambil gambar si gadis pujaan ketika si gadis pujaan tengah melakukan aktivitasnya di sekolah. Mahar senang mengkoleksi foto si gadis pujaan di dalam albumnya.
“Tak apalah, meski hanya foto-fotonya yang bisa aku miliki, aku sudah bahagia” bathin Mahar.
Hari demi hari terus berlalu, di antara jeritan hatinya karena kerap melihat si gadis pujaan berdua-duaan dengan si pemuda berandalan, Mahar tetap menguatkan hatinya untuk berhubungan baik dengan si gadis pujaan. Ditambah lagi Mahar melihat bukti-bukti nyata lainnya tentang kebiasaan mulia si gadis pujaan ini, maka bertambahlah cinta dan kekaguman Mahar kepada si gadis pujaan.
Entah, mungkin karena lelah menanti kesempatan yang tak kunjung datang, Mahar akhirnya memutuskan untuk melirik gadis lain. Tapi bukan berarti cintanya untuk si gadis pujaan lantas padam begitu saja. Tidak, Mahar punya prinsip cinta tak selamanya harus memiliki. Karena itu di samping dia mulai melakukan pendekatan kepada gadis lain, perhatian dan hubungan baik dengan si gadis pujaan terus dijaganya. Kedekatannya dengan gadis lain itu disampaikan Mahar kepada si gadis pujaan, dia berharap si gadis pujaan akan memperlihatkan sikap cemburunya manakala mengetahui kalau dirinya sedang dekat dengan seseorang. Tetapi dasar gadis yang baik, si gadis pujaan malah mengucapkan selamat karena akhirnya Mahar memiliki seseorang yang dicintainya. Mahar sedikit kecewa tetapi dia tak bisa menyalahkan sikap si gadis pujaannya itu.
Mahar bukanlah pemuda yang tak bertanggungjawab atas keputusan yang telah dipilihnya. Meski sebenarnya di lubuk hatinya dia tidak benar-benar mencintai kekasihnya, dia terus berusaha untuk menyayangi kekasihnya yang bernama Dewi. Mahar berusaha untuk menjadi seorang kekasih yang baik, penuh perhatian dan kasih sayang kepada kekasihnya. Sampai pada suatu hari, kekasihnya itu meminta Mahar agar mau menemaninya mengambil uang di sebuah bank. Sebagai pemuda yang bertanggungjawab, tentu saja dia tidak menolak permintaan kekasihnya. Berangkatlah Mahar bersama sang kekasih menuju bank. Sebelum berangkat secara jujur Mahar mengatakan kepada kekasihnya kalau dirinya sedang tidak memiliki uang untuk transportasi ke bank. Sang kekasih memaklumi dan mengatakan tidak masalah, bahkan sang kekasih mengajaknya jalan-jalan mengunjungi tempat wisata Gembira Loka. Mahar menyanggupinya.
“Har, nanti kalau kondekturnya teriak loka....loka.....kamu turun ya”, ucap sang kekasih kepada Mahar. Mahar memang belum begitu mengenal Yogya. Dia jarang sekali jalan-jalan berkeliling Yogya. Maklum, uang yang dikirim oleh orang tuanya tidak banyak, hanya ckup untuk makan dan membeli keperluan sehari-harinya saja.
“Oke, pokoknya begitu kondektur bis teriak loka....loka....aku akan turun”, jawab Mahar.
Karena bis penuh oleh penumpang, Mahar dan sang kekasih terpisah. Mahar di bagian depan sementara sang kekasih tergeser ke belakang. Tapi Mahar tidak khawatir karena sudah diberitahu di mana nanti dia harus turun. Rupanya-rupanya sang kekasih lupa memberitahu Mahar kalau pintu masuk ke Gembira Loka itu ada dua dan mereka harus melewati pintu masuk yang kedua. Itu artinya, jika kondektur berteriak loka....loka....yang pertama, maka jangan turun dulu. Barulah setelah si kondektur bis berteriak-teriak loka.....loka....untuk kedua kalinya, maka itulah waktunya untuk turun dari bis.
Seperti yang sudah dibayangkan, begitu kondektur bis berteriak loka....loka.....untuk yang pertama kali, Mahar bergegas turun dari bis. Sementara sang kekasih masih santai-santai di atas bis menunggu sang kondektur berteriak loka....loka....untuk yang kedua kali.
Setelah bis melaju kembali, Mahar menjadi panik karena tak melihat sang kekasih berada di dekatnya. Mahar bertanya-tanya, jangan-jangan sang kekasih tertidur dan tidak mendengar sewaktu sang kondektur berteriak loka.....loka....... Mahar lalu berusaha mengejar bis. Namun karena bisa terus melaju dengan kencang, Mahar akhirnya menghentikan larinya. Mahar bingung dan panik. Di tak tahu bagaimana nanti harus pulang. Karena tak satu rupiahpun uang yang ada di kantongnya. Mahar lalu melirik jam tangan dan sepatunya. Dalam hati dia berkata “biarlah nanti aku menjual jam tangan atau sepatuku untuk ongkos pulang ke kost jika aku tak bisa menemukan Dewi”. Sambil berpikir begitu, Mahar lalu mencari tempat yang agak tinggi untuknya beristirahat sambil menunggu kalau-kalau sang kekasih akan mencarinya. Mahar memang pandai, kepada orang yang ditemuinya dia bertanya, apakah ada pintu lain untuk masuk ke gembira loka selain pintu yang ada di hadapannya itu. Orang tersebut menjawab, bahwa untuk masuk ke gembira loka harus melewati pintu yang ada di sebelah sana, agak jauh dari tempatnya kini berada. Mahar pun lalu berpikir, bahwa mungkin kekasihnya itu turun di pintu sebelah sana.
“Baiklah, aku akan menunggu di tempat ini, aku yakin dia pasti akan mencariku dan menjemputku di sini”, pikirnya sambil duduk.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah becak berhenti tak jauh dari tempatnya duduk. Seorang gadis turun dari atas becak dan memanggil-manggil namanya.
“Mahar.....................Mahar.................”, Mahar melihat kekhawatiran dan kepanikan di wajah gadis itu. Seketika Mahar berdiri dan menghambur memeluk gadis itu.
“Mahar, maafin aku ya, aku lupa kasih tahu kamu kalau turunnya di pintu yang sebelah sana”, ucap gadis itu sambil memeluk erat tubuh Mahar.
“Iya, aku cuma menuruti instruksimu. Karena itu, begitu aku mendengar kondektur berteriak loka.....loka......, maka aku segera turun. Aku panik sewaktu tidak melihatmu turun dari bis.
“Aku juga lupa, kenapa tadi aku tidak membekalimu uang ya Mahar. Kalau kamu pegang uang kan kamu bisa pulang sendiri. Untung aku bisa menemukanmu di sini. Sekali lagi maafin aku ya Mahar”
“Tidak apa-apa, kan sekarang kita sudah bersama lagi”
“Kalau begitu, sekarang kita pergi ke pintu sebelah sana ya Mahar, masih mau kan jalan-jalan ke gembira loka?”
“Mau dong”, Mahar lalu menggandeng tangan kekasihnya.
Setelah peristiwa itu, benih-benih cinta di hati Mahar mulai bersemi. Dia melihat ketulusan kekasihnya untuk mencintainya. Karena itu diapun berusaha untuk membalas cinta kekasihnya itu. Namun di matanya tetap saja terbayang sang gadis pujaan. Apapun yang terjadi dia tidak akan mengingkari janjinya untuk terus menyimpan cintanya kepada sang gadis pujaan.
“Dik, apakah kamu benar-benar mencintaiku?”, tanya Mahar kepada sang kekasih di depan kandang yang berisi dua ekor jerapah.
“Iya Mahar, aku cinta sama kamu. Makanya aku begitu panik sewaktu kehilangan dirimu tadi”
“Aku juga mencintaimu dik. Kamu sangat baik kepadaku. Entah bagaimana nasibku tadi kalau kamu nggak mencariku”
“Aku pasti mencarimu Mahar, karena aku tahu kamu nggak punya duit dan aku juga nggak yakin, apakah kamu tahu jalan untuk pulang”
“Terimakasih ya sayang...............”
“Kembali kasih, sayang...............”
Mahar lalu mengecup kening kekasihnya itu sebagai bukti bahwa dia sangat mencintai sang kekasih. Sebaliknya sang kekasih memeluk erat tubuh Mahar, seolah takut terpisah lagi dari Mahar.
“Akhirnya, Gembira Loka menjadi saksi cintaku kepada seorang gadis, kenapa bukan dia, gadis yang selama ini aku puja? Seandainya dia yang saat ini berada di sini bersamaku, betapa bahagianya hatiku”, bathin Mahar dalam hati.
“Mahar...........kamu melamun ya”, tegur sang kekasih. Mahar membalasnya dengan senyum simpul. Maafkan aku dik, aku sedang membayangkan gadis lain, yang telah terlebih dahulu mencuri hatiku. Tapi aku berjanji aku tak akan menyia-nyiakan cintamu”
Mahar pun lalu menggandeng sang kekasih untuk berkeliling gembira loka.

Depok, 15 Oktober 2008

Kamis, 21 Agustus 2008

KEBAYA UNTUK WISUDA

Retno bangkit dari pembaringannya. Perlahan ditariknya resleting lemari plastik miliknya sehingga terbuka. Diambilnya kebaya kuno peninggalan ibunya yang selama ini tergantung di situ. Diamatinya kebaya itu beberapa saat sebelum akhirnya disimpannya kembali. Dia sudah memantapkan hati akan memakai kebaya tua peninggalan ibunya itu untuk acara wisudanya yang tinggal dua minggu lagi.

“Itu kan kebaya model nenek-nenek Ret. Memangnya kamu mau terlihat seperti nenek-nenek ketika wisuda nanti?”, komentar teman-teman satu kosnya ketika dia memeperlihatkan kebayanya itu.

“Bukan begitu, kebaya ini punya arti tersendiri bagiku. Kebaya ini sangat bersejarah. Lagi pula apa bedanya kebaya ini dengan kebaya-kebaya kalian, fungsinya kan sama saja tho. Hanya saja kebaya kalian itu baru dan kebayaku ini sudah lama dan kebaya baru kalian baru akan membuat sejarah, sedangkan kebayaku ini akan menambah sejarahnya. Wis, itu saja”, jelasnya menjawab komentar teman-temannya.

Retno memang sangat keras kepala dan selalu kukuh dengan pendiriannya. Beberapa kali pacarnya menawarinya untuk membuat kebaya baru, tetapi selalu ditolaknya. “Nggak usahlah mas, hanya untuk dipakai beberapa jam saja kok harus buat yang baru. Lagi pula nanti toh tertutup jubah toga. Hidup itu harus dibikin gampang dan simpel, biar nggak mudah stress. Kan mas Teguh sendiri yang bilang bahwa orang itu harus apa adanya, nggak usah neko-neko, jangan selalu melihat ke atas. Substansi wsudah itu yang penting, mau apa kita setelah wisuda nanti. Itu yang kadang-kadang orang lupa memikirkannya. Mereka pikir kalau sudah selesai kuliah, sudah di wisuda, masa depan akan lebih mudah digapai. Lagi pula aku nggak mau menambah kuat stereotype yang selama ini melekat pada perempuan, bahwa perempuan itu bisanya hanya shopping, menghabiskan uang dan bersolek saja”.

“Tetapi kadang-kadang orang kan butuh sesuatu yang baru Dik”, Teguh mencoba memberi alasan.

“Sudah lah mas, pokoknya aku pakai kebaya peninggalan ibu saja. Ini kan sekaligus sebagai penghormatan kepada ibu yang sejak dulu selalu mendukung dan menginginkan aku menjadi sarjana”, jawab Retno tetap kukuh.

Mata gadis itu menjadi berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat yang terakhir. Dia teringat pada janjinya untuk menghadiahkan toga sarjananya kepada ibu yang sangat dicintainya. Tetapi karena asma, ibunya bahkan tidak sempat menghadiri acara wisudanya nanti. Beliau sudah dipanggil Tuhan dua tahun yang lalu.

Sejak bapaknya menikah lagi, ibunya berjuang sendiri mencari nafkah untuk membesarkan dan menyekolahkannya. Akibatnya penyakit asma yang memang sudah sejak lama dideritanya sering kambuh. Semakin hari penyakit itu semakin parah, menggerogoti paru-parunya dan akhirnya merenggut nyawanya. Peristiwa itu sangat memukul jiwa Retno dan hampir memadamkan semangatnya untuk hidup dan menggapai cita-cita. Untungya saat itu dia sudah memiliki Teguh yang terus menyemangatinya dan memberinya dukungan. ********

“Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu nduk?”, tanya ibunya pada suatu kesempatan ketika Retno pulang karena libur kuliah.

“Kalau bicara masalah yakin tidak yakin, saya nggak bisa menjawabnya bu. Karena jodoh itu kan yang ngatur yang di atas. Bagi saya mas Teguh itu pemuda yang baik. Kami berdua merasa cocok satu sama lain. Mungkin karena latar belakang keluarga kita sama. Sama-sama miskin, makanya kita jadi saling tepo seliro, he...he.... Ibu nggak tahu kan, kalau mas Teguh itu seorang penulis yang hebat. Tulisannya sering dimuat di koran-koran dan majalah-majalah. Dia juga kerap diundang untuk mengisi acara seminar dan acara-acara diskusi. Dia membiayai hidup dan kuliahnya dari hasil menulisnya itu bu, termasuk juga membantu saya kalau saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Saya yakin, kelak mas Teguh akan bisa menjadi intelektual besar, dia akan bisa membahagiakan hidup saya”, jelas Retno mencoba meyakinkan ibunya. Perempuan paruh baya itu manggut-manggut saja meskipun tidak paham dengan istilah-istilah yang disebutkan putrinya itu.

Ada hal lain yang lebih penting sebenarnya yang ingin sekali dia dengar mengenai penulis yang dicintai putrinya itu, tapi dia sungkan untuk menanyakannya. Karena itu dia hanya mendesah dan menarik nafas dalam-dalam.

“Tapi yang paling penting, dia tidak seperti bapak”, sambung Retno seperti tahu apa yang sedang dipikirkan ibunya. “Sebaliknya, mas Teguh itu orangnya sangat gigih dalam memperjuangkan nasib perempuan. Dia seorang aktivis bu. Jadi ibu nggak usah khawatir kalau kelak saya akan mengalami nasib seperti yang dulu ibu alami. Ngakunya cinta, sayang, tapi nyatanya tidak bertanggungjawab. Malah menyengsarakan kita sampai sekarang”. Nada bicara Retno berubah jadi sengit. Ibunya sangat memaklumi jika putrinya bersikap seperti itu. Sakit hati dan kecewa terhadap perlakuan bapaknya. Hingga kini diapun belum bisa menghilangkan perasaan sakit itu. Dia harus rela menerima perlakuan tidak adil dari laki-lak iyang selama ini sangat dicintainya. Namun hatinya kini menjadi lega setelah mendengar penjelasan putrinya tentang pemuda yang dicintai putrinya itu. Retno tahu kalau ucapannya tadi telah membuka luka lama ibunya. Tapi itulah kenyataan yang terjadi, yang bertahun-tahun harus mereka hadapi dan jalani. Retno lalu memeluk erat tubuh kurus perempuan yang telah melahirkannya itu. Perempuan lugu yang begitu gampang dibodohi laki-laki yang mengaku mencintainya. Dalam hatinya dia mengutuk habis laki-laki itu. Laki-laki yang telah memerperlakukan ibunya dengan sangat tidak adil, laki-laki yang telah membuat hidupnya dan hidup ibunya menjadi sengsara.********

Tiang-tiang penyangga tenda lengkap dengan tendanya telah berdiri di depan aula kampus, pertanda akan ada perhelatan besar. Sementara itu di dalam aula yang bisa menampung hingga ribuan manusia, para calon wisudawan dan wisudawati melakukan gladi resik. Di salah satu sisi panggung berdiri tim paduan suara menyanyikan lagu-lagu diiringi dentingan piano. Satu persatu calon wisudawan dan wisudawati itu berjalan bergantian menuju mimbar untuk menerima ijazah.

Satu perasaan yang saat ini bergejolak di hati mereka adalah perasaan lega, karena telah berhasil menyandang gelar sarjana yang selama ini mereka idam-idamkan. Lalu, mau apa mereka setelah jadi sarjana? Sementara di luar sana masih banyak sarjana yang menunggu giliran untuk dapat mengamalkan ilmu yang sudah dengan susah payah mereka pelajari, alias menunggu giliran untuk mendapatkan pekerjaan Wajah-wajah dengan sorot mata yang putus asa bahkan takut untuk sekedar bermimpi. Lalu apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, menghabiskan biaya banyak, jika di luar sana para pemulung yang tidak mengenal bangku sekolah dengan rendah hati dan wajah penuh suka cita bahkan nyaris tak pernah punya waktu untuk bermimpi, menerima begitu saja nasib mereka tanpa memiliki beban untuk mempertanggungjawabkan pendidikannya. Ternyata tanpa pendidikan yang tinggi, ibunya dan juga para pemulung itu tetap bisa mencari penghidupan bahkan tetap bisa berlaku jujur. Hal itulah yang dulu sempat terpikir oleh Retno, gadis desa yang merasa hidupnya dikecewakan oleh laki-laki berpendidikan tinggi tapi tidak memiliki budi pekerti.

“Kamu harus tetap sekolah, nduk. Apapun hambatannya, ibu akan berusaha untuk tetap bisa menyekolahkanmu. Kamu harus menjadi perempuan yang pintar. Kalau kamu pintar, berpendidikan tinggi dan berbudi pekerti luhur, orang pasti tidak akan meremehkanmu. Orang pasti tidak akan menganggapmu rendah. Perempuan kalau bodoh hanya akan menjadi barang mainan laki-laki saja. Mereka akan mudah menguasa dan mengendalikan hidup kita”. Begitu yang diucapkan ibunya kepada Retno setiap kali gadis itu mengungkapkan keinginannya untuk berhenti sekolah dan mencari kerja karena merasa kasihan melihat ibunya yang berjuang sendirian mencarikan biaya untuk sekolahnya. Sekarang semua yang pernah dikatakan ibunya itu terbukti benar. Alangkah banyaknya yang dapat dia lakukan dengan ilmu yang sekarang dimilikinya. Paling tidak dia merasa dirinya tidak ada bedanya dengan teman laki-laki.

“Melamun ya Dik”, tegur seseorang dari belakang.

“Eh mas Teguh, kok mau kesini nggak kasih tahu dulu sih. Untung aku belum pulang. Aku nggak melamun kok, hanya sedang berpikir, mau apa ya setelah wisuda nanti. Ke mana-mana pasti transportnya lebih mahal. Kan sudah tidak bisa pakai tarif mahasiswa lagi. Ha.....ha....ha....., mereka tertawa bersama.********

Pagi sekali Teguh menjemput Retno di tempat kostnya untuk kemudian mengantarnya ke sebuah salon. “Ada hadiah untukmu”, ucap pemuda itu setelah sampai di depan pintu salon. Dikeluarkannya sebuah kado yang terbungkus rapi dari dalam tasnya lalu diangsurkannya kepada Retno.

“Apa ini mas?”, tanya Retno sambil menerima bingkisan itu.

“Buka saja nanti di dalam, semoga saja pas dan sesuai dengan seleramu”

Retno lalu buru-buru masuk ke dalam salon. Dengan penasaran dibukanya bingkisan yang ada di tangannya. Isinya ternyata sebuah kebaya warna pink dipadu dengan kain batik Cirebon yang berwarna senada. Retno menoleh ke arah Teguh sambil mendekap haru kebaya barunya.

“Terima kasih mas. Kebaya ini bagus sekali”, ucapnya sambil terus mendekap kebaya itu. Di sudut matanya terlihat ada kristal-kristal bening yang siap meluncur ke pipinya, namun buru-buru disekanya. “Tidak seharusnya hari ini aku menangis, karena hari ini adalah hari bahagiaku”, bathinnya dengan perasaan senang campur bimbang.

“Sudah saatnya masa lalu yang menyedihkan itu kamu lupakan. Saat ini mulailah berpikir untuk kehidupan yang akan datang, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di samping orang-orang yang mencintaimu, dan aku menawarkan kehidupan seperti itu kepadamu, sekiranya kamu tidak menolaknya”, Teguh menghampiri Retno dan menggenggap erat jemari gadis yan sangat dicintainya itu.

Rasa haru dan bahagia begitu menguasai hati Retno menyebabkan dia tak mampu lagi berkata-kata. Dia hanya bisa membathin “Ibu, seandainya engkau masih ada, seandainya engkau ada di sini, pastilah engkau juga akan merasakan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Dan engkau akan berkata, “pakailah kebaya pemberian kekasihmu itu nduk, engkau pasti akan terlihat lebih cantik dengan kebaya itu”.*******