Kamis, 21 Agustus 2008

KEBAYA UNTUK WISUDA

Retno bangkit dari pembaringannya. Perlahan ditariknya resleting lemari plastik miliknya sehingga terbuka. Diambilnya kebaya kuno peninggalan ibunya yang selama ini tergantung di situ. Diamatinya kebaya itu beberapa saat sebelum akhirnya disimpannya kembali. Dia sudah memantapkan hati akan memakai kebaya tua peninggalan ibunya itu untuk acara wisudanya yang tinggal dua minggu lagi.

“Itu kan kebaya model nenek-nenek Ret. Memangnya kamu mau terlihat seperti nenek-nenek ketika wisuda nanti?”, komentar teman-teman satu kosnya ketika dia memeperlihatkan kebayanya itu.

“Bukan begitu, kebaya ini punya arti tersendiri bagiku. Kebaya ini sangat bersejarah. Lagi pula apa bedanya kebaya ini dengan kebaya-kebaya kalian, fungsinya kan sama saja tho. Hanya saja kebaya kalian itu baru dan kebayaku ini sudah lama dan kebaya baru kalian baru akan membuat sejarah, sedangkan kebayaku ini akan menambah sejarahnya. Wis, itu saja”, jelasnya menjawab komentar teman-temannya.

Retno memang sangat keras kepala dan selalu kukuh dengan pendiriannya. Beberapa kali pacarnya menawarinya untuk membuat kebaya baru, tetapi selalu ditolaknya. “Nggak usahlah mas, hanya untuk dipakai beberapa jam saja kok harus buat yang baru. Lagi pula nanti toh tertutup jubah toga. Hidup itu harus dibikin gampang dan simpel, biar nggak mudah stress. Kan mas Teguh sendiri yang bilang bahwa orang itu harus apa adanya, nggak usah neko-neko, jangan selalu melihat ke atas. Substansi wsudah itu yang penting, mau apa kita setelah wisuda nanti. Itu yang kadang-kadang orang lupa memikirkannya. Mereka pikir kalau sudah selesai kuliah, sudah di wisuda, masa depan akan lebih mudah digapai. Lagi pula aku nggak mau menambah kuat stereotype yang selama ini melekat pada perempuan, bahwa perempuan itu bisanya hanya shopping, menghabiskan uang dan bersolek saja”.

“Tetapi kadang-kadang orang kan butuh sesuatu yang baru Dik”, Teguh mencoba memberi alasan.

“Sudah lah mas, pokoknya aku pakai kebaya peninggalan ibu saja. Ini kan sekaligus sebagai penghormatan kepada ibu yang sejak dulu selalu mendukung dan menginginkan aku menjadi sarjana”, jawab Retno tetap kukuh.

Mata gadis itu menjadi berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat yang terakhir. Dia teringat pada janjinya untuk menghadiahkan toga sarjananya kepada ibu yang sangat dicintainya. Tetapi karena asma, ibunya bahkan tidak sempat menghadiri acara wisudanya nanti. Beliau sudah dipanggil Tuhan dua tahun yang lalu.

Sejak bapaknya menikah lagi, ibunya berjuang sendiri mencari nafkah untuk membesarkan dan menyekolahkannya. Akibatnya penyakit asma yang memang sudah sejak lama dideritanya sering kambuh. Semakin hari penyakit itu semakin parah, menggerogoti paru-parunya dan akhirnya merenggut nyawanya. Peristiwa itu sangat memukul jiwa Retno dan hampir memadamkan semangatnya untuk hidup dan menggapai cita-cita. Untungya saat itu dia sudah memiliki Teguh yang terus menyemangatinya dan memberinya dukungan. ********

“Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu nduk?”, tanya ibunya pada suatu kesempatan ketika Retno pulang karena libur kuliah.

“Kalau bicara masalah yakin tidak yakin, saya nggak bisa menjawabnya bu. Karena jodoh itu kan yang ngatur yang di atas. Bagi saya mas Teguh itu pemuda yang baik. Kami berdua merasa cocok satu sama lain. Mungkin karena latar belakang keluarga kita sama. Sama-sama miskin, makanya kita jadi saling tepo seliro, he...he.... Ibu nggak tahu kan, kalau mas Teguh itu seorang penulis yang hebat. Tulisannya sering dimuat di koran-koran dan majalah-majalah. Dia juga kerap diundang untuk mengisi acara seminar dan acara-acara diskusi. Dia membiayai hidup dan kuliahnya dari hasil menulisnya itu bu, termasuk juga membantu saya kalau saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Saya yakin, kelak mas Teguh akan bisa menjadi intelektual besar, dia akan bisa membahagiakan hidup saya”, jelas Retno mencoba meyakinkan ibunya. Perempuan paruh baya itu manggut-manggut saja meskipun tidak paham dengan istilah-istilah yang disebutkan putrinya itu.

Ada hal lain yang lebih penting sebenarnya yang ingin sekali dia dengar mengenai penulis yang dicintai putrinya itu, tapi dia sungkan untuk menanyakannya. Karena itu dia hanya mendesah dan menarik nafas dalam-dalam.

“Tapi yang paling penting, dia tidak seperti bapak”, sambung Retno seperti tahu apa yang sedang dipikirkan ibunya. “Sebaliknya, mas Teguh itu orangnya sangat gigih dalam memperjuangkan nasib perempuan. Dia seorang aktivis bu. Jadi ibu nggak usah khawatir kalau kelak saya akan mengalami nasib seperti yang dulu ibu alami. Ngakunya cinta, sayang, tapi nyatanya tidak bertanggungjawab. Malah menyengsarakan kita sampai sekarang”. Nada bicara Retno berubah jadi sengit. Ibunya sangat memaklumi jika putrinya bersikap seperti itu. Sakit hati dan kecewa terhadap perlakuan bapaknya. Hingga kini diapun belum bisa menghilangkan perasaan sakit itu. Dia harus rela menerima perlakuan tidak adil dari laki-lak iyang selama ini sangat dicintainya. Namun hatinya kini menjadi lega setelah mendengar penjelasan putrinya tentang pemuda yang dicintai putrinya itu. Retno tahu kalau ucapannya tadi telah membuka luka lama ibunya. Tapi itulah kenyataan yang terjadi, yang bertahun-tahun harus mereka hadapi dan jalani. Retno lalu memeluk erat tubuh kurus perempuan yang telah melahirkannya itu. Perempuan lugu yang begitu gampang dibodohi laki-laki yang mengaku mencintainya. Dalam hatinya dia mengutuk habis laki-laki itu. Laki-laki yang telah memerperlakukan ibunya dengan sangat tidak adil, laki-laki yang telah membuat hidupnya dan hidup ibunya menjadi sengsara.********

Tiang-tiang penyangga tenda lengkap dengan tendanya telah berdiri di depan aula kampus, pertanda akan ada perhelatan besar. Sementara itu di dalam aula yang bisa menampung hingga ribuan manusia, para calon wisudawan dan wisudawati melakukan gladi resik. Di salah satu sisi panggung berdiri tim paduan suara menyanyikan lagu-lagu diiringi dentingan piano. Satu persatu calon wisudawan dan wisudawati itu berjalan bergantian menuju mimbar untuk menerima ijazah.

Satu perasaan yang saat ini bergejolak di hati mereka adalah perasaan lega, karena telah berhasil menyandang gelar sarjana yang selama ini mereka idam-idamkan. Lalu, mau apa mereka setelah jadi sarjana? Sementara di luar sana masih banyak sarjana yang menunggu giliran untuk dapat mengamalkan ilmu yang sudah dengan susah payah mereka pelajari, alias menunggu giliran untuk mendapatkan pekerjaan Wajah-wajah dengan sorot mata yang putus asa bahkan takut untuk sekedar bermimpi. Lalu apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, menghabiskan biaya banyak, jika di luar sana para pemulung yang tidak mengenal bangku sekolah dengan rendah hati dan wajah penuh suka cita bahkan nyaris tak pernah punya waktu untuk bermimpi, menerima begitu saja nasib mereka tanpa memiliki beban untuk mempertanggungjawabkan pendidikannya. Ternyata tanpa pendidikan yang tinggi, ibunya dan juga para pemulung itu tetap bisa mencari penghidupan bahkan tetap bisa berlaku jujur. Hal itulah yang dulu sempat terpikir oleh Retno, gadis desa yang merasa hidupnya dikecewakan oleh laki-laki berpendidikan tinggi tapi tidak memiliki budi pekerti.

“Kamu harus tetap sekolah, nduk. Apapun hambatannya, ibu akan berusaha untuk tetap bisa menyekolahkanmu. Kamu harus menjadi perempuan yang pintar. Kalau kamu pintar, berpendidikan tinggi dan berbudi pekerti luhur, orang pasti tidak akan meremehkanmu. Orang pasti tidak akan menganggapmu rendah. Perempuan kalau bodoh hanya akan menjadi barang mainan laki-laki saja. Mereka akan mudah menguasa dan mengendalikan hidup kita”. Begitu yang diucapkan ibunya kepada Retno setiap kali gadis itu mengungkapkan keinginannya untuk berhenti sekolah dan mencari kerja karena merasa kasihan melihat ibunya yang berjuang sendirian mencarikan biaya untuk sekolahnya. Sekarang semua yang pernah dikatakan ibunya itu terbukti benar. Alangkah banyaknya yang dapat dia lakukan dengan ilmu yang sekarang dimilikinya. Paling tidak dia merasa dirinya tidak ada bedanya dengan teman laki-laki.

“Melamun ya Dik”, tegur seseorang dari belakang.

“Eh mas Teguh, kok mau kesini nggak kasih tahu dulu sih. Untung aku belum pulang. Aku nggak melamun kok, hanya sedang berpikir, mau apa ya setelah wisuda nanti. Ke mana-mana pasti transportnya lebih mahal. Kan sudah tidak bisa pakai tarif mahasiswa lagi. Ha.....ha....ha....., mereka tertawa bersama.********

Pagi sekali Teguh menjemput Retno di tempat kostnya untuk kemudian mengantarnya ke sebuah salon. “Ada hadiah untukmu”, ucap pemuda itu setelah sampai di depan pintu salon. Dikeluarkannya sebuah kado yang terbungkus rapi dari dalam tasnya lalu diangsurkannya kepada Retno.

“Apa ini mas?”, tanya Retno sambil menerima bingkisan itu.

“Buka saja nanti di dalam, semoga saja pas dan sesuai dengan seleramu”

Retno lalu buru-buru masuk ke dalam salon. Dengan penasaran dibukanya bingkisan yang ada di tangannya. Isinya ternyata sebuah kebaya warna pink dipadu dengan kain batik Cirebon yang berwarna senada. Retno menoleh ke arah Teguh sambil mendekap haru kebaya barunya.

“Terima kasih mas. Kebaya ini bagus sekali”, ucapnya sambil terus mendekap kebaya itu. Di sudut matanya terlihat ada kristal-kristal bening yang siap meluncur ke pipinya, namun buru-buru disekanya. “Tidak seharusnya hari ini aku menangis, karena hari ini adalah hari bahagiaku”, bathinnya dengan perasaan senang campur bimbang.

“Sudah saatnya masa lalu yang menyedihkan itu kamu lupakan. Saat ini mulailah berpikir untuk kehidupan yang akan datang, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di samping orang-orang yang mencintaimu, dan aku menawarkan kehidupan seperti itu kepadamu, sekiranya kamu tidak menolaknya”, Teguh menghampiri Retno dan menggenggap erat jemari gadis yan sangat dicintainya itu.

Rasa haru dan bahagia begitu menguasai hati Retno menyebabkan dia tak mampu lagi berkata-kata. Dia hanya bisa membathin “Ibu, seandainya engkau masih ada, seandainya engkau ada di sini, pastilah engkau juga akan merasakan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Dan engkau akan berkata, “pakailah kebaya pemberian kekasihmu itu nduk, engkau pasti akan terlihat lebih cantik dengan kebaya itu”.*******