Senin, 12 Mei 2008

PAUSE




PAUSE
by: Diah Rofika

“Jadi keputusanmu sudah bulat untuk keluar dari kantormu? Nggak nyesel ? Aku sih senang kamu di rumah tapi lama-lama bisa jenuh lho.”, Anto mengirimkan pertanyaan itu lewat sms. Kujawab iya meski dengan perasaan masygul. Aku hafal sekali sifat Anto. Sepuluh tahun berumah tangga dengannya ditambah masa pacaran 4 tahun cukup bagi kami untuk saling mengerti sifat masing-masing. Sekilas orang yang membaca sms itu pastilah mengira Anto adalah orang yang perhatian dan memberi kebebasan terhadap istri. Tapi bagi aku yang sudah sangat mengenal pribadinya, sebenarnya sms itu lebih menyiratkan tentang kekecewaannya. Dia lebih suka jika aku bekerja, punya penghasilan sendiri sehingga tidak merepotkan dia dan tentu saja jadi lebih berkelas ketimbang hanya sebagai ibu rumah tangga saja. Untuk aku sendiri, bekerja adalah media untuk mengaktualisasikan diri, kan sayang sudah sekolah tinggi-tinggi tapi ilmunya tidak dimanfaatkan. Kalau menghasilkan uang ya alhamdulillah, paling tidak untuk membeli keperluan pribadi tidak perlu meminta-minta pada suami. Sangat tidak enak bergantung hidup pada orang lain meski orang lain itu adalah suami sendiri. Itu sudah pernah aku rasakan pada tahun-tahun pertama pernikahan kami, saat itu aku belum bekerja. Butuh ini atau itu harus minta kepada suami. Kalau suami moodnya lagi bagus sih biasanya permintaan kita dituruti tapi kalau lagi badmood, boro-boro dia mau memenuhi permintaan kita, yang ada malah kita dicap sebagai istri yang tahunya menuntut saja. Yang paling tidak enak adalah ketika orang tua kita atau keluarga kita membutuhkan bantuan. Rasanya berat untuk menyampaikannya pada suami. Baginya diri kita yang tanpa penghasilan saja sudah menjadi beban apalagi keluarga yang lain. Karena itu setelah anak pertamaku berumur tiga tahun aku memutuskan untuk bekerja. Ketika kusampaikan niatku itu, suamiku langsung setuju. Waktu itu tujuanku murni untuk membantu keuangan suami, antara lain untuk memback up jika ada kebuthan di luar yang kami rencanakan meski untuk itu aku harus merelakan pengasuhan anakku ke tangan pengasuh. Hingga akhirnya aku sendiri merasa maniak untuk bekerja. Gaji bukan lagi prioritas utama, tetapi memperluas kolega, bertemu dan berinteraksi dengan segala macam orang dan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak memberi kepuasan dan kebahagian buat diriku. Saking maniaknya aku bekerja, ketika anak keduaku lahir, aku hanya betah mengambil cuti selama satu bulan. Padahal jatah cuti melahirkan kan dua bulan. Aku benar-benar ketagihan untuk bekerja. Aku merasa puas karena bisa mengerjakan banyak hal dan dengan uang hasil keringatku sendiri aku bisa membeli semua yang aku inginkan, bisa membantu keluargaku, bisa membelikan sesuatu untuk orang tuaku, mertuaku, menyalurkan jiwa sosialku yang terkadang tak bisa terkontrol, tanpa meminta pada suami. Suamiku senang karena uangnya tidak banyak yang dikeluarkan untuk keperluan rumah tangga. Dia bisa menambah tabungannya dan menimbun impian-impiannya yang suatu saat berharap bisa diwujudkannya dengan tabungannya itu.

Jika memikirkan semua itu, berat memang mengambil keputusan untuk berhenti dari pekerjaanku. Tapi apa boleh buat. Apa enaknya sih bekerja dalam suasana yang serba ditekan dan dibatasi. Peraturan-peraturan yang ada semakin lama kami rasakan semakian menindas. Istilah populernya “harre gene, masih pakai cara diktator, capek deh”. Padahal visi misi kami justru membantu mereka yang tertindas dan diperlakukan tidak adil. Tapi kami sendiri justru mengalami ketidakadilan. Jadi untuk apa kami mengusung wacana itu, menggembar-gemborkannya ke sana ke mari kalau ternyata kendaraan yang kami tunggangi justru dipimpin oleh orang yang senangnya menindas dan tak kenal demokrasi. Sementara kami tidak memiliki daya untuk memperbaikinya. Kediktatoran dan tirani lebih dipilih untuk mengendalikan para stafnya. Karena itu sebelum sistim itu meracuni tubuh dan pikiran kami, kami memilih untuk mundur. Gave up, hanya kata itu yang bisa kami lontarkan ke dewan penasehat ketika kami diundang untuk berdialog dengan mereka setelah mereka menerima tembusan surat pengunduran diri kami. Suasana kantor sudah benar-benar tidak kondusif, kami tidak bisa lagi bekerja dengan optimal, tidak bisa dengan leluasa mengusulkan ide dan pendapat kami. Sebenarnya untuk apa mereka menggaji kami selama ini kalau bukan untuk ide-ide kreatif kami. Kami kan bukan bekerja di pabrik garment sebagai penjahit baju atau sebagai pemasang kancing yang cukup hanya mengandalkan ketrampilan tangan saja. Kami bekerja dengan otak dan pikiran kami. Jadi kalau harus dibatasi dan didikte tidak boleh begini dan begitu, lama-lama otak kami bisa tumpul, tidak berkembang.

Cukup lama bagi aku dan teman-teman mempertimbangkan untuk berani membuat keputusan resign ini. Karena taruhannya adalah masa depan kami, terutama buat teman-teman laki-laki yang notabene mereka adalah kepala keluarga. Untungnya sih rata-rata dari mereka adalah orang-orang yang cukup kreatif, punya banyak koneksi di sana sini. Jadi meski mereka nanti tidak lagi bekerja di kantor mereka tetap bisa mencari penghasilan. Bahkan kalau lagi mujur dari kerja yang nggak menentu itu bisa mendapat penghasilan yang jauh lebih besar dari gaji yang selama ini mereka terima dari kantor. Mereka sudah terbiasa bekerja seperti itu. Hanya bedanya, dulu mereka melakukannya hanya sebagai pekerjaan sambilan saja. Tapi yang paling penting dari itu semua adalah mereka bisa dengan bebas mengeksparesikan ide-ide mereka, Mereka bisa bebas berkreasi dan berkarya tanpa dibatas-batasi oleh segala macam peraturan. Yah, aku bisa sedikit lega. Aku bisa mengurangi rasa bersalah karena telah menyeret mereka ke dalam situasi seperti ini. Demi menjaga idealisme, mereka rela melepas pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup mereka. Sementara aku sendiri, apa yang akan aku lakukan setelah keluar dari kantor ini, aku belum tahu. Berdiam di rumah, mengurus anak-anak atau paling-paling menulis cerpen atau puisi. Sama sekali belum terbayang mau apa aku ke depannya nanti. Yang pasti aku akan kembali bergantung hidup pada suami.
“Hai Win, bengong aja kayak sapi ompong, sudah selesai belum beres-beresnya?”, suara Heru menghentikan lamunanku. Dia berdiri di depan pintu ruanganku. Kedua tangannya menenteng dua buah kardus yang pasti berisi barang-barang miliknya yang nanti akan dibawanya pulang.
“Gue mau taruh ini di bawah biar nanti gampang ngambilnya”, sambungnya lagi sambil berlalu.
“Wah kalau gitu bisa bantuin guwe dong”, celetukku.
“Makanya kerja jangan sambil bengong, jadi nggak selesai-selesai”, teriaknya.
“Winda sedih ninggalin teman curhatnya”, Restu nimpalin dari ruangannya yang bersebelahan dengan ruanganku.
Aku tersenyum sambil memandangi komputer yang sudah hampir tujuh tahun ini menemaniku bekerja. Menampung semua keluh kesahku, kesedihanku, kegembiraanku. Tanpa terasa mataku mulai berkaca-kaca. Aku segera mengusapnya, khawatir ada yang melihat sifat asliku – cengeng -. Kupandangi satu persatu barang-barang yang esok tak lagi bisa kusambangi. Meja dan laci-laci yang dengan setia menampung berkas-berkas rahasiaku. Filing cabinet yang selalu siap menerima file-fileku dan rak-rak buku yang dengan senyum selalu memajang buku-buku dan laporan-laporan pekerjaanku. Ah rasanya berat berpisah dengan mereka semua.
“Hai, apakah kalian juga merasakan kesedihan seperti yang aku rasakan saat ini? Seandainya ada pilihan lain yang bisa aku pilih, tentulah aku tidak perlu meninggalkan kalian semua. Semoga kalian nanti mendapatkan partner yang lebih baik dari aku”

“Bu Winda, mau makan siang?” Udin office boy kantorku sudah berdiri di depanku. Seperti biasanya, tangannya memegang kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan kami.
“Eh Din, kayaknya kita bakal keluar aja deh untuk makan siang. Sekalian pamitan sama orang-orang yang ada di warung”
“Oh gitu. Ibu nanti sering-sering main ya”
“Jangan khawatir Din, kan ada telpon. Kita bisa telpon-telponan, kamu juga bisa main ke rumahku kan kalau kangen sama aku. Sama omelanku maksudnya he...he....”
“Ibu bisa aja. Ya udah bu, kalau gitu saya ke bawah dulu”
“Oke”
Aku kembali mengemasi barang-barangku. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal aku bergegas ke bawah menemui Heru, Restu dan yang lainnya untuk bersama-sama cari makan siang. ***************

Kulirik jam yang terpajang di samping komputerku. Jarum pendeknya mengarah ke dekat angka tiga sementara jarum panjangnya mengarah ke angka sembilan. Ku hela nafas dengan perasaan berat. Hari ini sepertinya jam berlalu begitu cepat. Kalau hari-hari kemarin sih aku menjalaninya dengan senang. Karena dengan begitu aku bisa cepat-cepat mematikan komputer, melepaskan mata dari angka-angka yang terkadang membuat pusing kepala lalu dengan bergegas meninggalkan kantor agar bisa mampir ke mall yang setiap hari aku lewati sekedar untuk memandangi pakaian-pakaian yang terpajang di etalasi-etalasi toko atau mencari oleh-oleh untuk kedua anakku yang menungguku di rumah. Tapi tentu tidak untuk hari ini. Justru aku ingin hari berputar kembali ke pagi hari agar waktuku lebih panjang untuk duduk di kursi yang sekian tahun dengan rela telah menampung tubuhku dan membuatku merasa nyaman untuk mengerjakan tugas-tugasku atau biar aku bisa lebih lama memandangi isi ruanganku, beristirahat di perpustakaan sambil membaca buku baru atau bercengkerama dengan teman-teman saat makan siang sambil menonton televisi. Sebentar lagi semua itu hanya akan menjadi kenangan, kenangan yang akan selalu kubanggakan sepanjang hidupku. Karena meski hanya tujuh tahun, aku pernah merasakan menjadi perempuan yang mandiri, perempuan yang tidak bergantung hidup pada suami, perempuan yang berjuang untuk menolong perempuan-perempuan yang merasa tertindas dan teraniaya dan mendampingi mereka untuk menjadi individu yang mandiri, individu yang sadar akan hak-haknya.

“Eh Win, elo kenapa sih dari pagi kerjaannya bengong melulu, udah deh nggak usah dipikirin lagi. Bosen tau’ hampir setengah tahun kita nunggu untuk bisa keluar dari sini. Harusnya hari ini kita senang karena keinginan itu akhirnya terwujud”, Heru masuk ke ruanganku dengan mengomel karena melihat aku yang tanpa gairah.
“Iya sih Her, tapi guwe bener-bener sedih ninggalin program-program yang udah kita konsep dengan susah payah. Khawatir aja, kalau itu semua nanti bakal diacak-acak sama orang-orang baru yang sama sekali nggak ngerti jalan pikiran kita”, jawabku mencoba menutupi perasaanku yang sebenarnya.
“Ya biarin aja, kali aja mereka punya konsep yang lebih bagus dari yang udah kita kerjain. Yang penting lembaga yang udah kita rintis dengan susah payah ini harus tetap jalan, tetap exist dan dikenal orang meskipun dengan program yang berbeda. Lagi pula apapun nanti yang terjadi dengan lembaga ini, sudah bukan urusan kita lagi”.
“Wah-wah, kalian memang pekerja yang teladan, sudah mau keluar masih saja semangat untuk berdiskusi”, Restu yang datang dengan Nita ikut bicara.
“Mending deh diskusi, ini nih si Winda kepikiran terus mau ninggalin kantor. Yang bakal ditinggal aja nggak mikirin kita”
“Iya Win, nanti kita rintis lagi lembaga baru di mana kita bisa bebas mengeluarkan pendapat dan ide-ide kita. Kalian semua kan orang-orang yang udah berpengalaman, banyak kolega, dekat dengan beberapa lembaga dana, jadi dont worry lah”, Nita mencoba mengahibur.
“Tuh dengerin apa kata bu guru. Tenang aja, kita bakal sama-sama lagi nanti. Kalau nanti guwe jadi direktur, guwe tetap butuh tenaga keuangan yang cerdas kayak elo Win, guwe tetap butuh programmer kayak Heru, guwe tetap butuh sekretaris program kayak Nita, he....he....”
“Ah dasar, gila semua. Ya udah deh sana pada kembali ke tempat masing-masing. Pandangin sepuas-puasnya deh ruangan kalian. Detik-detik terakhir hampir tiba nih”, aku mengusir mereka dari ruanganku. Setelah hari ini aku pasti akan sangat merasa kehilangan mereka. Nggak ada lagi teman-teman yang mau mendengar keluh kesahku, mendukung keinginan-keinginan dan obsesi-obsesiku. Hanya ada Anto, orang yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri, yang menganggap remeh pekerjaanku dan juga obsesi-obsesiku. Menganggapku tak pantas untuk diajak diskusi soal pekerjaannya, berkenalan dengan teman-teman kantornya ataupun kolega-koleganya yang lain.
“Mas, aku pingin banget membukukan puisi-puisi atau cerpen-cerpenku”, ungkapku suatu ketika.
“Alah, buat apa sih puisi atau cerpen dibukukan, tulisan-tulisanmu kan cengeng gitu”
“Kamu nggak fair menilai seperti itu, padahal kamu nggak pernah membacanya”
“Udah, kerjaanmu kan udah banyak. Nggak usah pingin yang aneh-aneh deh. Kebutuhan kita juga masih banyak”.
Aku benci sekali kalau mengingat peristiwa itu. Tapi apa dayaku. Meski aku senang dunia sastra tapi aksesku sangat terbatas di dunia itu. Selain itu, membuat buku kan juga perlu biaya. Darimana aku punya biayanya kalau aku nggak pernah punya tabungan. Hasil kerja selama bertahun-tahun selalu habis untuk menolong keluarga yang membutuhkan, membeli kebutuhan pribadiku dan terkadang membantu mertua jika diapun tidak berhasil menembus suamiku. Sampai sekarang puisi-puisi dan cerpen-cerpen itu hanya tersimpan di komputer saja. Ada beberapa sih yang pernah dimuat di majalah atau koran. Tapi kalau punya buku hasil tulisan sendiri kan nilainya lain.
“Ayo Win, semua udah nunggu di bawah tuh”, Heru lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
“Oke, aku segera ke bawah. Tolong panggilin Udin ya Her”

Udin membantu mengangkat barang-barang kami ke bagasi taksi yang sudah menunggu di halaman kantor. Setelah semua beres kami semua berkumpul di ruang tamu membuat acara perpisahan sederhana. Kami memberikan bingkisan, sekedar kenang-kenangan kepada Udin yang selama ini dengan setia melayani kami dan juga Tami yang rajin medistribusikan surat-surat dan menyambungkan telepon ke meja-meja kami.
“Terimakasih ya untuk kerjasama kalian selama ini”, aku mewakili teman-teman mengucapkan rasa terimakasih kepada mereka berdua.
“Kami juga terimakasih mbak, mas. Kami pasti akan sangat kehilangan mbak-mbak dan emas-emas semua”, Tami mengucap dengan menangis.
“Udah-udah, jangan sedih dong, kita kan masih bisa ketemu dan juga saling telpon. Taksinya udah kelamaan nunggu tuh”, Restu segera mengakhiri acara perpisahan sore itu.
Kami segera melangkah meninggalkan kantor dengan perasaan yang hanya kami sendiri yang tahu. **********

Pamulang, 18 April 2007

SEPARUH MALAM
Warta Kota Minggu, 2 Pebruari 2003
Krak...brak... Suara seperti pohon tumbang dan guyuran hujan yang membasahi tubuhku telah membangunkanku dari keterlelapan malamku. Kudengar di luar sana suara orang berlarian dan berteriak penuh kepanikan. Tanah longsor.....banjir.....banjir.....! Suasana sangat gelap ditambah hujan yanga begitu deras telah menyamarkan penglihatanku, sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara bergemuruh yang semakin lama semakin jelas di telingaku, seperti suara badai.
“Siti....cepat bawa adikmu pergi dari sini”, ibuku berkata dengan suara lirih. Kulihat tubuhnya tertimpa batang pohon yang juga menghancurkan sebagian bangunan rumah kami.
“Ibu......!”, aku tak memperdulikan perintahnya. Aku sangat panik dan berusaha untuk menolongnya.
“Ayo Ti, cepat selamatkan dirim dan adikmu. Biarkan ibu di sini. Ayo cepat, tinggalkan ibu, jangan pikirkan ibu”
“Tidak bu, aku tidak akan pergi tanpa ibu”, jawabku sambil terus berusaha menyingkirkan batang pohon dari atas tubuhnya. Batang pohon itu terlalu besar, aku tak kuat. Di tengah kepanikanku aku berteriak-teriak histeris meminta pertolongan pada orang-orang yang lalu lalang. Namun sepertinya tak satu orangpun yang mendengar teriakanku. Semua orang sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Aku mulai menangis, takut dan putus asa. Kupeluk tubuh ibuku yang terus memyuruhku untuk segera pergi. Aku tak perduli. Aku tak mau pergi tanpa ibu. Aku tak mau kehilangan ibu. Adikku yang berdiri tak jauh dariku menggigil kedinginan. Dia juga terus menangis dan memanggil-manggil ibu. Orang terus berlarian tanpa memperdulikan keadaan kami. Mereka tetap tak memperdulikan teriakan permintaan tolong kami. Tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh adikku dan menarik tanganku. Kami berlari kencang sekali meninggalkan ibuku, meninggalkan semua yang kami punya.
“Ibu.....ibuuu....” aku terus berteriak-teriak histeris memanggil ibuku tapi orang yang mengajakku berlari tak menghiraukannya. Kami terus berlari, berpacu dengan suara gemuruh yang terus mendekat seolah seaang mengejar kami.
“Lepaskan aku, aku harus menolong ibu, ibu.....aku nggak mau pergi tanpa ibu, aku mau balik ke ibu!” aku terus berteriak. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan orang itu tetapi arus manusia semakin menyeretku menjauhi desaku. Suara gemuruh semakin terdengar jelas, mendekat dan terus mendekat. Lalu semuanya menjadi rata dalam sekejap. Hanya separuh malam gelombang air becampur lumpur telah menghanyutkan dan menenggelamkan semua yang ada. Rumah, ternak, sawah, jembatan, manusia, termasuk ibuku.
Jalan-jalan tertutup lumpur tebal, tak lagi tampak desaku kecuali hamparan lumpur hitam. Separuh malam sudah kuhabiskan untuk menangis, toh kesedihan kali ini lebih berlipat-lipat rasanya dibandingkan ketika aku menghabiskan waktu semalam suntuk untuk menangisi jasad ayahku yang remuk karena terjatuh dari lereng gunung saat sedang menambang kapur. Rasa sedih dan kehilangan yang kurasakan saat itu hanyalah rasa ketakutan sesaat mengingat ayah adalah tulang punggung keluarga. Ayah adalah simbol kehormatan keluarga. Tak ada laki-laki maka tak ada kehormatan. Kenyataan ini menjadi pil pahit yang harus kami telan sepanjang waktu. Sedangkan kesedihan yang kurasakan saat ini adalah kesedihan yang sesungguhnya. Kesedihan yang terbakar oleh rasa sakit akibat amarah, apinya terus berkobar membakar jiwaku, terus menyelusup semakin dalam, menerobos dinding-dinding urat-urat syarafku dan akhirnya mengendap menjadi bongkahan kebencian yang tak ada akhirnya. Separuh malam telah kuhabiskan dengan menangis, namun hingga mata ini menjadi bengkak, tak jua kembali apa yang pernah menjadi milikku. Bahkan jasad ibukupun sampai detik ini belum juga berhasil ditemukan.
Tak habis-habisnya aku menangis, hingga tak ada lagi sisa air mata yang keluar ketika aku masih ingin melampiaskan kemarahanku dengan menangis. Tak ada lagi air mata, kering kerontang seperti juga mata air-mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan penduduk desa kami. Tak lagi mengalirkan airnya yang jernih, pun kerongkongan kami tak lagi bisa merasakan segarnya air pegunungan. Yang tertinggal hanyalah rasa sakit yang menyesakkan dada dari limbah-limbah pertambangan yang dibuang ke lereng-lereng dan sampai ke desa kami. Limbah-limbah itu telah mengaratkan fungsi anggota tubuh kami karena tak ada lagi makanan bersih yang masuk ke dalamnya. Butiran nasi telah bercampur dengan bongkahan-bongkahan kapur yang dulunya justru menjadi tangki penyimpanan air yang sangat kuat. Dari tangki-tangki buatan alam itulah ribuan hektar sawah kami terairi dengan baik, ternak kami berkembang biak dengan baik sehingga kami bisa makan makanan dari ladang kami sendiri dan minum susu segar dari ternak-ternak kami. Kebutuhan gizi tercukupi sehingga kami bisa tumbuh dan berkembang dalam kebebasan alam kami. Kami adalah orang-orang yang kaya, kami dapat mencukupi kebutuhan hidup dari hasil bumi kami sendiri tanpa harus membeli, sampai akhirnya pertambangan menghancurkan masa depan kami.
Musim panas kali ini sangat mencekik, sungai-sungai yang dulunya tetap mengalir di musim panas kini menjadi onggokan batu kapur yang lebar dan gersang. Air terjun yang dulunya melimpahkan airnya secara teratur ke lereng-lereng bukit telah lama mengering. Pun pohon-pohon yang dulunya tumbuh subur, seperti hamparan karpet hijau, kini tiada lagi. Semua berubah menjadi gurun gersang. Penambangan telah mematikan hutan dan sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan kami. Tetapi sayang, sebagian besar dari kami lebih percaya bahwa tidak turunnya hujanlah yang meneybabkan kekeringan ini terjadi. Bukan karena penambangan itu. Lalu mereka beramai-ramai menggelar ritual, beragam sesajen dibuat untuk mendatangkan hujan. Padahal jika lingkungan tidak dirusak, meskipun tidak turun hujan satu tahunpun mata air akan tetap mengalirkan airnya. Pohon-pohon akan terus memproduksi air sehingga kita tidak akan kekurangan air seperti sekarang ini.
Namaku Siti, umurku baru tiga belas tahun ketika para kontraktor itu datang ke desaku. Mereka menawarkan proyek yang nantinya akan bisa meningkatkan taraf hidup kami. Itu yang dikatakan mereka. Aku tak mengerti apa yang kemudian mereka bicarakan dan negosiasikan dengan para lelaki di desaku termasuk juga ayahku. Hingga suatu hari aku melihat ayahku dan para lelaki lainnya meningglkan ibuku dan para perempuan bekerja sendirian di sawah. Ayahku dan para lelaki itu tidak pernah lagi berangkat ke sawah tetapi mereka menuju lereng-lereng pegunungan. Mereka tidak lagi mencangkuli dan mengairi sawah, juga mencari rumput untuk makan ternak-ternak kami. Mereka beralih profesi sebagai penambang kapur. Setiap hari mereka mencungkili lereng-lereng tempat penyimpanan air alami kami. Mereka tidak sadar bahwa penambangan ini akan berakibat pada rusaknya fungsi hutan dan mengeringkan sumber-sumbe air yang selama ini menghidupi desa kami.
Suatu hari, dengan sangat suka cita, kulihat truk-truk besar berbelalai panjang dan mulut menganga lebar penuh gerigi tajam melintasi jalan berkerikil di desaku. Pemandangan yang belum pernah aku lihat seumur hidupku. Kuikuti truk-truk itu sampai ke penambangan dan kulihat roda-rodannya terus berputar dan bergerak, Belalai panjangnya menjulur ke sana ke mari, mengeruk kapur-kapur yang setiap hari dicungkili ayahku dan para lelaki dari desaku. Ketika belalai itu terangkat ke atas, kulihat mulutnya telah penuh oleh kapur yang kemudian dimasukkannya ke badan-badan truk. Di sisi yang lain, kulihat beberapa orang dengan menggunakan gergaji yang besar tengah menebangi pohon-pohon kami. Suara mesinnya bising sekali, membuat gendang telingaku seakan mau pecah.
Tiga tahun sudah proyek penambangan itu berjalan. Dampaknya mulai kami rasakan. Air yang kami minum berbau kapur, banyak ikan-ikan di sungi yang mati terkena racun limbah, makanan yang ibu masakpun tak lagi terasa lezat. Di musim panas, sumur-sumur kami yang tadinya dipenuhi oleh air, mulai mengering sehingga kami harus menggali lebih dalam lagi. Untuk mengairi sawah, kami harus menunggu giliran karena air yang ada tidak mencukupi dan ternak-ternak banyak yang mati karena kehausan dan kelaparan. Ketika musim hujan tiba, air dengan deras mengalir ke lereng gunung, menimbulkan banjir, menghanyutkan tanah dan mengikis tepi-tepi sungai sehingga tak bisa lagi membendung air. Air terus meluap memenuhi dataran, menghanyutkan tanaman padi dan jagung yang sudah dengan susah payah kami rawat. Air terus meluap hingga masuk ke teras-teras rumah kami.
Kini baru kusadari bahwa semua yang pernah aku lihat dulu itu sesungguhnya adalah proses pengrusakan ekologi. Pemerintah telah salah dalam mengartikan tata cara kehidupan tradisional kami. Mereka menganggap masyarakat kami tak lain adalah masyarakat desa yang miskin yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya dengan pembangunan. Padahal dalam kenyataanya, pembangunanlah yang justru telah menggiring kami kepada kemiskinan yang sesungguhnya. Dengan pembangunan yang menyimpang karena ditumpangi oleh nafsu keserakahan, mereka telah merusak alam yang selama ini telah memenuhi kebutuhan dasar hidup kami. Ke mana mereka ketika dengan suara lantang kami minta dibangunkan sekolahan, supaya kami para anak-anak tidak perlu mengayuh sepeda puluhan kilo untuk dapat membaca dan menulis, kemana mereka ketika dengan memohon-mohon kami minta dibangunkan puskesmas, supaya jika kami sakit cepat bisa mendapatkan pertolongan dan pengobatan. Dan kemana mereka ketika dengan suara yang hampir serak kami meminta jalan desa kami di aspal. Kemana, kemana mereka semuanya yang selama ini mengumbar komitmen di mana-mana tentang pentingnya menjamin kesejahteraan rakyat dan pemerataan pembangunan.
Namaku Siti, umurku sudah enam belas tahun ketika banjir bandang dan tanah longsor yang menenggelamkan desaku itu terjadi. Bahkan belum genap satu bulan kami menggelar ritual untuk mensyukuri hujan yang terus menerus mengguyur desa kami yang selama musim panas seperti gurun, tandus dan gersang. Tak cukup hanya separuh malam untuk memperbaiki alam kami yang sudah rusak dan mengembalikan semua yang pernah kami miliki.

HARGA PEREMPUAN
by Diah Rofika
Majalah Noor, 2005
Warti mengayuh sepedanya lebih kencang sehingga botol-botol jamunya yang telah kosong terdengar bergemerincing di antara dua sisi boncengan sepedanya. Jilbab yang dikenakannya pun ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama angin yang mempermainkannya. Warti ingin cepat-cepat sampai di rumah kontrakan yang dihuninya bersama teman-temannya sesama penjual jamu dan mengabarkan kepada mereka bahwa pak Janggut bos para agen jamu akan mengadakan perlombaan membuat jamu gendong. Kebetulan sekali tadi dia bertemu dengan bosnya itu dan beliau memintanya untuk menyebarkan berita bagus itu kepada para penjual jamu gendong lainnya.
Akhirnya sampai juga dia di depan deretan rumah petakan yang rata-rata dihuni oleh para pedagang kecil seperti dirinya.
“Assalamu’alaikum”, ucapnya ketika mau memasuki rumah kontrakannya.
“Wa’alaikum salam”, jawab teman-temannya yang ternyata sudah terlebih dahulu sampai di rumah.
“Waduh, tumben Ti kamu datang paling telat, apa para pelangganmu memintamu untuk menemani mereka”, sapa Supinah meledek. Biasanya Warti memang paling cepat pulangnya dibandingkan teman-temannya yang lain.
“Ada kabar bagus teman-teman”, ucapnya lagi tanpa menghiraukan ledekan Supinah. Tangannya sibuk menurunkan perangkat jamunya dari atas sepedanya.
“Kabar bagus apa Ti, apa kamu ketemu duda atau pangeran kaya yang mengajakmu kawin”, ledek Supinah lagi.
“Kamu itu lho yu, sukanya meledek aku terus. Aku tadi ketemu bos Janggut, beliau bilang mau mengadakan perlombaan membuat jamu untuk ita-kita”.
“Walah, itu sih bukan berita bagus, paling-paling kita dimintain iuran, iya tho?”
“Ndak, bukan itu. Malahan nanti kita yang bakal dapat duit, karena ada sponsor yang mau membiayai perlombaan itu”
“Maksudmu, sponsor itu mau kasih kita tambahan modal, gitu?” tanya Narsih bersemangat. Gadis asal Wonogiri ini memang sedang getol mencari tambahan modal untuk merealisasikan cita-citanya membuka kios jamu. Alasannya biar nggak capek mengayuh sepeda.
“Bukan begitu Sih, tapi kita akan mengikuti lomba membuat jamu gendong. Siapa yang jamunya paling enak ya berhak dapat duit sebagai hadianya”, jawab Warti memberi penjelasan kepada teman-temannya biar nggak pada salah persepsi.
“Walah Ti...Ti, pengen dapat tambahan modakl saja kok sampai repot begitu”, celetuk Narsih.
“Kirain kita dapat bonus cuma-cuma karena bos menghargai kita sebagai perempuan yang gigih bekerja”, timpal Atun yang sejak tadi hanya diam saja.
“Apanya yang repot tho Tun, bukankah setiap hari pekerjaan kita adalah membuat jamu untuk kita jual, untuk mendapatkan duit. Lagi pula tujuan kita mengikuti lomba kan bukan hanya untuk mendapatkan hadiah, yang paling penting lagi, kita bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa ini lho yang selama ini kita jua, hasil karya kita. Jam uasli buatan tangan kita sendiri. Bukan menjual penampilan kita yang kebanyakan orang bilang kita ini kemayu, yang pandainya merayu laki-laki, yang selalu dicurigai oleh para ibu-ibu karena takut suami mereka kepincut pada kita. Kita tunjukkan kepada semua orang bahwa kita ini perempuan-perempuan yang punya prestasi, yang bisa hidup mandiri dan bekerja keras untuk mendapatkan uang yang halal. Dan kamu yu, hentikan mimpi-mimpimu yang ndak jelas itu, jaman kayak gini mana ada rejeki yang datang sendiri tanpa dicari, tanpa ada usaha untuk mendapatkannya. Sekalipun itu uang haram, pasti selalu pake cara untuk mendapatkannya. Apalagi uang yang halal”, jelas Warti lagi menimpali olokan teman-temannya.
“Huh”, dengus Supinah dengan muka cemberut. Dia merasa digurui oleh Warti yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya dan baru beberapa tahun pula tinggal di Jakarta. Dia juga merasa tersindir karena penampilannya selama ini memang cenderung berlebihan. Dia selalu berdandan tebal dan berpakaian seksi ketika sedang berjualan. Sudah lama Supinah memendam perasaan marah pada Warti karena merasa gadis ingusan itu telah menyaingi dirinya yang telah lebih lama hidup di Jakarta. Setiap ada kesempatan dia selalu melampiaskan kemarahannya itu. Hanya saja dia merasa tidak enak kepada teman-temannya yang lain, karena mereka lebih bisa menerima kelebihan Warti dengan lapang dada.
“Sudah tho yu, maafin aku ya, bukan maksudku sok pintar atau menyindir kamu, aku hanya berusaha menyampaikan apa yang tadi bos janggut terangkan kepadaku, juga tentang pandangan masyarakat terhadap keberadaan kita”, ucap Warti pelan ketika melihat wajah supinah yang tampak marah. “Sekarang siapa yang mau setor tabungan dari keuntungan hari ini?”, tanyanya kemudian untuk mencarikan suasana.
Inilah sifat Warti yang disukai teman-temannya, tidak gampang marah tapi mudah untuk minta maaf dan memaafkan. Keteganganpun sirna, mereka lalu menyodorkan sejumlah uang kepada Warti. Setiap uang yang dia terima dicatat di dalam sebuah buku dan ditandatangani oleh yang menyerahkan. Semua itu untuk menghindari kesalahpahaman ataupun fitnah yang mungkin saja terjadi.
Menyisihkan separuh dari keuntungan yang didapat setiap hari adalah idenya. Dia ingin kerja keras dia dan teman-temannya bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi mereka di kemudian hari. Apalagi di antara mereka kan sudah ada yang berkeluarga dan memiliki anak yang mereka tinggal di kampung. Mereka rela hidup terpisah dengan anak dan suami demi mencari tambahan penghasilan. Kalau dipikir, berapa sih keuntungan dari menjual jamu, paling hanya cukup untuk makan mereka sehari-hari di Jakarta. Boro-boro bisa kirim uang ke kampung, balik modal saja susah. Saingan mereka cukup banyak. Lalu kapan bisa majunya, sampai tuapun keadaan ekonomi mereka akan tetap seperti ini. Padahal keluarga di kampung mengharapkan mereka pulang dengan membawa uang. Karena itu perlu ada sedikit paksaan untuk bisa menabung. Setiap hari mereka dipaksa untuk menyisihkan penghasilan mereka dan setelah seminggu tabungan harian mereka dipindahkan ke bank, agar lebih aman dan berkembang.
Warti memang berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dia selalu menginginkan perubahan untuk dirinya. Seperti ketika dia memutuskan untuk memakai jilbab. Semua teman-temannya sempata mencibir dan mencemooh dia. Mereka bilang dengan menutup seluruh tubuh maka tidak akan ada orang yang mau membeli jamu-jamu mereka. Para laki-laki yang selama ini menjadi pelanggan jamu mereka pasti akan beralih kepada penjual jamu yang berpenampilan sedikit seksi. Bukankah sebenarnya hanya alasan saja mereka membeli jamu, padahal yang sebenarnya mereka ingin menggoda penjualnya. Kalau lagi mujur bisa mengencani mereka. Warti tak perduli dengan cibiran dan cemoohan teman-temannya. Pokoknya niat dia lillahita’ala, mencari rejeki yang halal sambil beribadah. Dia tidak khawatir jika jamunya nanti tidak laku, pasti bukan lantaran penampilannya yang berubah tapi mungkin karena jamu buatannya memang kurang enak. Buktinya toh sampai sekarang sudah hampir setengah tahun berlalu sejak Warti memutuskan untuk memakai jilbab, apa yang diramalkan oleh teman-temannya itu tidak terbukti. Malahan bertambah banyak pelanggan yang membeli jamu buatannya. Sampai-sampai dia menambah beberapa botol lagi jamu yang dijualnya. “Subhanallah”, Warti memuji kebesaran nama Allah yang telah memberinya petunjuk dan hidayah. Memang sih, ada juga satu atau dua orang yang mengolok-olok penampilannya, terutama para laki-laki iseng yang selama ini memendam kejengkelan karena tak pernah berhasil merayunya. Mereka bilang sok alimlah, sok suci, dan sebagainya. Maklumlah, wajah Warti memang terbilang manis kulitnya coklat mulus, ditambah tubuhnya yang tinggi semampai, tak heran jika banyak laki-laki yang berusaha mencuri perhatiannya. Tapi Warti tak mau ambil pusing dengan semua itu. Kepada mereka Warti menjelaskan bahwa dia hanya menjalankan ajaran agama dan Insya Allah tidak untuk menyakiti orang lain. Toh mesti mengolok-olok, mereka masih membeli jamu buatannya. Itu artinya, untuk menarik pelanggan, para penjual jamu gendong tak perlu berpenampilan seksi apalagi sampai memperlihatkan bagian tubuh tertentu. Menurutnya, seseorang itu dihargai karena prestasi dan usahanya. Sekalipun dia seorang perempuan, seorang penjual jamu gendong, bukan semata-mata karena penampilan luarnya.
Berkah yang didapat Warti itu memicu teman-temannya untuk mengikuti jejaknya. Beberapa di antara mereka sudah mengenakan jilbab. Warti berharap, semoga teman-temannya melakukan itu semua karena didorong oleh niat ikhlas beribadah kepada Allah, bukan karena ingin mendapatkan yang lain. Bukankah rejeki itu sudah ada yang mengatur, kita hanya bisa berdo’a adan berusaha saja. Karena itu sedikit atau banyak rejeki yang kita dapaat, kita wajib mensyukurinya.
Warti sangat mensyukuri karunia yang diberikan Allah kepadanya. Kini dia bisa menabung lebih banyak lagi. Peluang untuk mewujudkan cita-citanya seolah terbuka lebar. Dia ingin kelak bisa mendirikan tempat kursus menjual jamu, menularkan ilmu membuat jamunya kepada perempuan-perempuan lain yang berekonomi lemah seperti dirinya agar bisa hidup mandiri, tidak melulu tergantung kepada keluarga atau suami mereka. Pengalaman pahit yana dulu menimpa keluarganya telah memberinya pelajaran yang sangat berharaga, termasuk mempengaruhi cara berfikirnya. Dia tidak ingin pengalaman pahit itu terulang pada kehidupannya kelak dan juga kehidupan teman-temannya sesama perempuan.
Seringkali pada dini hari ketika dia baru memulai aktivitasnya membuat jamu, bayangan kejadian masa lalu itu muncul dalam ingatannya. Tapi cepat-cepat dia berusaha menepisnya. Tak pernah dia menceritakan kisah pahitnya itu kepada orang lain. “Semua telah berlalu, yang penting sekarang adalah masa depan dan orang lain tak perlu tahu masa laluku”, bathinnya. Tapi kejadian yang menimpa salah satu pelanggan barunya memaksa dia untuk mengingat kembali lembaran masa lalu itu. Apa yang dialami oleh ibu Dina, si pelanggan barunya itu hampir sama dengan apa yang dulu dialami oleh ibunya. Sama-sama diperlakukan secara tidak manusiawi oleh laki-laki yang mengaku mencintai mereka. Bedanya, ibunya tak pernah punya niat untuk menggugurkan kandungannya. Paling tidak, itulah yang terfikir oleh Warti saaat pertama mengenal perempuan itu. Matanya tampak sembab dan suaranya terdengar parau ketika berbicara.
“Ada jamu peluntur Yuk?”, tanyanya pelan sekali seperti takut terdengar orang lain.
“Saya tidak pernah membawa jamu itu bu, tapi kalau pil tuntas ada. Banyak ibu-ibu yang meminumnya untuk mempercepat masa haidnya”.
“Saya bukannya ingin menuntaskan haid saya, tapi bayi yang ada dalam perut saya”, jawabnya ketus.
“Astaghfirullah hal azim”.
Mata perempuan itu berkaca-kaca, terlihat sekali ketidakstabilan dalam dirinya. Warti sangat kasihan melihat kondisi perempuan itu.
“Saya tidak punya siapa-siapa selain dia, saya memutuskan untuk tidak bekerja demi melayani dia, saya...saya sudah berkorban banyak demi dia, tapi dia malah meninggalkan saya mbak”, tiba-tiba tanpa diminta perempuan itu mulai bercerita tentang rumah tangganya, tentang suaminya yang sering berlaku kasar kepadanya, suaminya yang sering membawa perempuan lain ke rumah. “Saya takut mbak, bagaimana nasib saya nanti, nasib bayi yang ada dalam kandungan saya ini. Dia bilang saya mandul, saya perempuan yang tidak berguna. Padahal lihat mbak, saya bisa hamil, saya sedang mengandung anaknya. Tapi apa yang dia katakan, dia bilang saya telah berselingkuh dengan laki-laki lain, bahwa bayi ini bukan anaknya. Coba Yuk, apalagi yang bisa saya lakukan?”, perempuan itu mulai menangis.
“Saya tak bisa lagi mengharapkan bayi ini akan menolong saya. Bahkan tadi malam suami saya menyampaikan niatnya untuk menceraikan saya. Karena itu saya ingin menggugurkan bayi ini Yuk, saya takut kelak nggak bisa membiayai hidup anak ini”
“Istighfar bu, masih ada yang bisa menolong ibu. Ingat pada Allah Subhanahuwata’ala, anak adalah harta yang tak ternilai yang dititipkan allah kepada kita, karena itu Dialah yang kelak akan memberi rejeki kepada anak ibu”, nasehat Warti.
Dia tidak mampu menahan keharuan melihat penderitaan yang dialami nyonya muda itu. “Duh Gusti, sampai kapankah perempuan akan berhenti mengalami nasib seperti ini?, sampai kapankah laki-laki akan berhenti memperlakukan perempuan seperti ini?, dalam hati Warti sangat marah melihat ketidakadilan ini. Mungkin jika perempuan bisa hidup mandiri, tidak menggantungkan ekonomi kepada laki-laki dan laki-laki menerima keberadaan perempuan sejajar di sisinya. Warti berjanji untuk terus berjuang mewujudkan semua harapan itu.


JANGAN BERI BUNDA BUNGA

by : Diah Rofika

Budi dan Guntoro sudah berteman sejak awal mereka kuliah. Mereka dulu satu kelompok dalam kegiatan ospek. Persahabatan itu terus berjalan baik hingga kini bahkan mereka sudah seperti saudara. Guntoro sudah tidak mempunyai ibu, tapi dia telah menganggap ibunya Budi sebagai pengganti ibunya yang telah pergi ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama. Keluarga Budi pun sudah menganggap Guntoro dan Laras adiknya seperti keluarga mereka sendiri. Orang tua Budi menyayangi Guntoro dan adiknya seperti mereka menyayangi anak-anak mereka sendiri. Karena itu wajar ketika Budi mengutarakan maksudnya untuk membuat suatu pesta kecil untuk ulang tahun ibunya, Guntoro langsung setuju dan dengan sepenuh hati memberi dukungan terhadap rencana Budi itu.

“Kita harus membuat konsep yang bagus untuk acara itu”, Guntoro membuka percakapan saat mereka tengah berkumpul di kampus.

“Oh iya dong dan ini harus kita rahasiakan. Kita akan buat kejutan untuk para perempuan perkasa yang telah melahirkan kita itu”, Budi menimpali.

“Agnes, kamu punya usul nggak untuk acara kami?, kamu kan perempuan. Jadi pasti tahu dong pesta seperti apa yang disukai oleh perempuan”

“Tergantung dong. Meski kami sama-sama perempuan, tapi ibu-ibu dan remaja pasti punya selera yang berbeda”

“Ya kalau bisa sih pesta remaja yang disukai oleh ibu-ibu gitu. Dengan begitu kita yang jadi panitia kan nggak bete-bete amat, iya nggak?”

“Iya betul”.

“Ya udah, nanti gue coba pikirin deh. Kali aja nyokap gue bisa bantu. Kebetulan tanteku kan juga sering jadi EO di pesta-pesta gitu deh. Pokoknya kalau elo butuh perlengkapan pesta sampai catering dan hiasan ruangan, gue bisa bilang ke tante gue itu”

“Tapi ini kan cuma pesta kecil aja Nes”

“Justru karena pesta kecil makanya harus dibikin meriah”

“Kira-kira berapa biaya nyewa tante loe itu”

“Udah tenang aja, gue nanti yang bakal ngelobi dia. Kita bisa minta paket yang paling murah tapi hasil memuaskan”

“Ya udah terserah elo aja deh. Tapi elo harus tetap jaga rahasia kita ini ya”

“Tenang aja, lagian kan nyokap gue nggak begitu akrab sama nyokap elo”

“Sip deh kalau gitu”

“Oh iya, udah siang nih, aku cabut duluan ya”, Agnes pamit pada Budi dan Guntoro”

“Oke, kita juga mau cabut kok. Eh tapi kapan kita bisa dapat kabarnya?”

“Besok. Nanti malam gue baru bisa telpon tante gue. Biasa, dia tuh super sibuk orangnya”

“ Thanks ya Nes udah mau bantuin kita”. Agnes menjawab dengan senyuman. Lalu dia berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu.

“Gun, kita cari makan aja yuk, perut ku udah lapar nih”

“Ayo deh, siapa tahu sambil makan nanti kita nemuin ide”

Sambil berboncengan motor Budi dan Guntoro menuju warung tempat mereka biasa makan siang meninggalkan debu yang berterbangan diterjang roda-roda motor mereka.

*******************

Awan berwarna biru terang ketika Budi, Guntoro dan Agnes berkumpul di pinggir lapangan seusai bermain basket.

“Gimana ide gue, bisa diterima nggak?” Agnes membuka percakapan.

“Bagus, ide loe bagus banget. guwe setuju. Gimana menurut loe Gun?”

“Hmm bagus, tapi sebaiknya nggak perlu kebanyakan bunga deh. Apalagi sampai bokap loe kasih hadiah bunga segala. Kuno tahu, ibu-ibu sekarang mah lebih seneng dikasih cincin berlian, kalung dengan liontin batu permata, pokoknya jangan bunga lah. Guwe nggak setuju banget. Istri kok dihargai hanya dengan seikat bunga”

“Ini kan simbolik aja man. Biar kesannya romantis. Perempuan kan biasanya penyuka bunga”

Guntoro terdiam. Setiap kali mendengar kata bunga yang terbayang di ingatannya adalah kenangan pahit tentang ibundanya tercinta yang telah meninggal beberapa tahun silam. Masih tergambar jelas dalam ingatannya peristiwa-peristiwa menyakitkan yang terjadi di dalam keluarganya. Ayah Guntoro seorang pengusaha sukses, meski modal didapat dari warisan yang ditinggalkan oleh orang tua istrinya. Awalnya ayah, Bunda, dirinya dan juga Laras hidup dalam kebahagiaan. Sampai pada suatu ketika datang sepucuk surat yang mengabarkan bahwa ayah mempunyai perempuan lain. Bunda tidak begitu saja langsung percaya, justru Bunda curiga jangan-jangan surat itu dikirim oleh lawan bisnis ayah untuk menghancurkan keutuhan keluarganya. Surat itu lalu Bunda sampaikan kepada ayah. Saat itu Guntoro masih duduk di bangku SMP, tapi dia sudah bisa menilai ekspresi seseorang dari hanya dengan melihat wajah atau sorot mata orang itu. Dia sempat melihat ayahnya terkejut sesaat dan wajahnya sedikit pasi ketika membaca surat itu. Ayah lalu berkata dengan suara pelan, “pastilah itu pekerjaan orang-orang yang iri terhadap kesuksesan usaha kita”. Kemudian tangannya merangkul pundak Bunda dengan mesra dan Bunda percaya.

Keesokan harinya ayah mengirim karangan bunga mawar segar untuk Bunda. Bunda tampak senang dan bahagia dengan kiriman ayah itu. Begitu juga Guntoro dan Laras, mereka percaya ayah tidak mungkin berbuat jahat kepada Bunda. Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat, beberapa hari kemudian di suatu malam, ayah pulang kerja dengan wajah merah menahan marah. Suara teriakannya memanggil Bunda menggema memenuhi semua sudut rumah. Guntoro dan Laras turut terkejut dibuatnya. Dengan tergopoh-gopoh Bunda datang menghampiri ayah dan plak... satu tamparan keras mendarat di pipi halus Bunda. Bunda tersungkur ke lantai sambil memegangi pipinya yang memerah. Guntoro yang melihat kejadian itu lalu berlari menghampiri Bunda dan menolongnya berdiri sementara Laras menangis histeris dan lari masuk ke kamarnya.

“Ayah ini kenapa, apa salah Bunda?”, teriak Guntoro saat itu. Seperti tidak mendengar teriakan Guntoro, ayah kemudian berlalu menuju ruang kerjanya. Wajah Guntoro merah menahan marah tetapi Bunda justru menenangkannya.

“Sudah nak, mungkin ayah lagi banyak masalah di kantor. Sudah, Bunda nggak apa-apa kok”, suara lembut Bunda meredakan emosi yang saat itu membara di hati Guntoro.

Sejak peristiwa malam itu ayah menjadi jarang pulang dengan alasan sibuk mengurus bisnis di luar kota. Perhatian ayah kepada keluarga juga berkurang dan ayah lebih sering bersikap kasar kepada Bunda. Tak seorangpun yang tahu mengapa ayah berubah seperti itu. Tiap kali habis berbuat kasar ayah selalu mengirimi Bunda bunga sebagai permintaan maafnya dan Bunda selalu memaafkannya.

“Gun, loe kenapa, kok diajak ngomong malah bengong gitu sih”, teguran Budi membuyarkan lamunan Guntoro.

“Eh nggak, nggak apa-apa. Sori, guwe cuma teringat nyokap guwe aja kok”

“Sori ya Gun, nyokap loe pasti senang di sana karena loe selalu mengingatnya. Tapi loe kan punya nyokap lain yang nggak kalah sayangnya sama nyokap kandung loe”

“Iya Gun. Guwe aja iri lihat sikap nyokapnya Budi ke elo”

“Tuh kan, Agnes yang orang lain aja iri, gimana guwe yang anak kandungnya sendiri. Habis sih Guntoro itu sok jaim gitu deh kalau di depan nyokap guwe. Kagak kayak guwe yang ngejablak aja”

“Enak aja loe. Emang dasarnya guwe tuh anak baik. Kagak kayak loe”

“Ha...ha...ha.....”, ketiganya tertawa terbahak. Seketika kesedihan di hati guntoro hilang.

*******

Budi membeli rangkaian mawar putih di sebuah toko bunga untuk keperluan pesta besok. “Ini mawar putih kesukaan nyokap”, waktu nyokap elu masih ada, bunga apa yang beliau sukai?” tanyanya kepada Guntoro sambil menjalankan mobil.

Guntoro tak menjawab.

“Heh, kok diam aja sih, ingat lagi sama nyokap loe? Harusnya tuh mengenang apa yang disukai beliau waktu masih hidup itu bikin elo jadi senang”

“Hm, semua jenis bunga nyokap guwe suka” akhirnya guntoro menjawab. “Dia sangat suka berkebun dan menanam bunga. Tapi tragisnya, bunga juga yang bikin nyokap pergi ninggalin guwe dan Laras”.

“Maksudnya nyokap elu keracunan bunga?”

“Bisa dibilang begitu, tapi sudahlah terlalu sakit buat guwe kalau inget kejadiannya”.

“Sory deh, guwe nggak bermaksud membangkitkan kenangan pahit masa lalu elu ”. Budi jadi paham kenapa selama ini Guntoro hampir tidak pernah menceritakan masa lalu keluarganya. Dia hanya bercerita tentang Laras dan kehidupan mereka sekarang.

“Nggak apa-apa”, jawab Guntoro sambil mengingat kembali saat-saat terakhir bersama Bundanya. Malam itu, Bunda, dirinya dan Laras tengah bersantai menonton acara televisi setelah melaksanakan shalat Isya bersama. Kebetulan ayah sedang dinas keluar kota. Bel di ruang tamu berbunyi, berarti ada tamu di luar sana. Bunda, Guntoro dan Laras saling pandang, mengira-ngira siapa tamu yang datang malam-malam begini. Bunda segera beranjak untuk membuka pintu. Tubuhnya yang kurus dan pucat terlihat jelas saat dia berjalan.

Bunda kembali dengan membawa satu rangkaian bunga di tangannya. Matanya yang cekung mengamati tulisan di kartu yang tergantung di salah satu sisi bunga. Dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Pengirimnya sih betul ayah, tapi bukan untuk Bunda, juga bukan untuk kalian”, ucap Bunda.

“Lalu untuk siapa dong, mungkin Bunda salah baca”, ujar Laras.

“Mana mungkin Bunda salah baca, jelas di sini tertulis “buat Dik Sri tersayang, dari mas Danu”, jelas Bunda lagi

Belum hilang kebingungan Bunda, datang seorang perempuan muda ingin bertemu Bunda. Dari caranya berpakaian, sepertinya perempuan itu sedang hamil.

Bunda lalu mempersilahkan perempuan itu duduk. Mulailah mereka bercakap-cakap. Perempuan itu bernama Sri. Dia mengaku sudah satu tahun ini menjadi istri simpanan pak Danu, dan saat ini sedang mengandung anak pak Danu. Hampir satu bulan ini pak Danu tidak pernah mengunjunginya bahkan kalau ditelpon ke handphonenya yang menerima suara perempuan dan selalu mengatakan pak Danu sedang tidak berada di tempat.

Suasana di ruang tamu menjadi hening, tapi kemudian terdengar perempuan muda itu berteriak minta tolong. Guntoro dan Laras yang mendengar teriakan itu menjadi terkejut, lalu mereka bergegas lari ke ruang tamu. Mereka melihat Bunda terkulai lemas di atas sofa.

“Bu Danu tiba-tiba pingsan”, perempuan muda itu berkata dengan terbata-bata. Matanya tampak memerah menahan tangis. Laras segera menelpon dokter keluarga mereka. Dokter keluarga yang datang untuk memeriksa mengatakan bahwa Bunda tidak pingsan tetapi meninggal.

Guntoro tidak pernah mengira kalau Bundanya begitu cepat pergi. Jantung Bunda tidak kuat menahan rasa terkejutnya mendengar suami yang selama ini selalu menunjukkan rasa sayang dan cintanya ternyata telah lama mengkhianatinya. Guntoro lalu menuduh ayahnyalah yang telah menyebabkan Bundanya pergi. Kalau saja ayah tidak salah mengirimi Bunda bunga, kalau saja ayah tidak berselingkuh, pastilah sampai saat ini Bunda masih bersamanya.

“Hmm... ngelamun lagi deh. Kalau tahu pesta ini bakal bikin elo sedih begini, mending kita batalin aja deh”

“Eh jangan...jangan. Sori guwe agak sedikit sentimentil. Pesta ini harus tetap dilaksanakan. Elo harus bisa ngebahagiain nyokap loe. Mumpung kesempatan itu masih ada. Nanti loe yang nyesel sendiri. Habis kan baru tahun ini kita jadi panitianya. Biasanya kan nyokap loe sendiri yang buat pesta”

“Nah gitu dong. Tapi Gun, guwe mau tanya sedikit, tapi loe jangan marah ya”

“Ya tergantung pertanyaannya dong”

“Tuh kan”

“Iya, iya. Mau tanya apa sih”

“Begini, kita ini kan udah kayak saudara sendiri. Orang tua guwe udah nganggap elo kayak anak sendiri. Sebenarnya apa sih yang menyebabkan nyokap loe meninggal? Hm...tapi kalau loe nggak mau nyeritain sih nggak apa-apa”

“Sebenarnya bukan guwe nggak mau cerita, tapi setiap kali guwe ingat peristiwa itu, hati guwe langsung sakit”. Akhirnya Guntoro menceritakan kisah masa lalu keluarganya. Budi yang mendengar cerita itu nyaris nggak percaya kalau ayahnya Guntoro tega menyakiti istrinya yang telah bebuat banyak untuk dirinya terutama untuk karirnya.

“Pantaslah kalau elo merasa sakit hati sama bokap elo. Tapi kan sekarang bokap elo udah dapat balasannya”

“Iya sih. Tapi guwe sama Laras belum bisa maafin dia”

“Nggak apa-apa. Tapi suatu saat elo harus bisa maafin dia. Biar bagaimanapun dia itu bokap elo. Suatu saat elo berdua pasti bakal ngebutuhin dia”

Percakapan mereka terhenti ketika mobil mereka sudah sampai di pekarangan rumah Budi. Dengan berjingkat-jingkat mereka masuk ke dalam rumah membawa sekeranjang bunga. Mereka takut nyokap mengetahui kedatangan mereka.

*******************

Pagi itu, Nita kakaknya Budi memaksa mamanya untuk menemaninya belanja ke supermarket. Padahal perempuan setengah baya itu sedang malas untuk keluar rumah. Tapi karena itu adalah bagian dari rencana mereka, maka Nita harus bisa mengeluarkan mamanya dari rumah pagi itu.

Tak lama setelah mamanya pergi, sebuah mobil box yang membawa peralatan pesta datang. Mereka segera menyulap ruang keluarga menjadi ruang pesta lengkap dengan hiasan dan peralatan catteringnya. Dalam waktu kurang lebih dari dua jam, persiapan untuk pestapun selesai. Makanan dan minuman aneka rupa sudah terhidang dengan rapi. Ketika pada siang hari Nita dan nyokapnya datang, perempuan setengah baya itu merasa sangat bahagia. Apalagi ketika dia membaca tulisan di spanduk “SELAMAT ULANG TAHUN PAHLAWAN RUMAH TANGGA, KAMI BANGGA PADAMU”

Seketika capek dan lelah yang dirasakannya bertahun-tahun sirna begitu saja. Pengorbanannya tidak sia-sia untuk tetap memilih menjadi ibu rumah tangga.

“Terimakasih, terimakasih” perempuan itu berkata dengan mata berkaca-kaca.

“Untuk menunjukkan jati dirinya, seorang perempuan tidak harus bekerja di luar rumah. Karena memanfaatkan pendidikan yang telah di dapat bisa di mana saja termasuk di dalam rumah. Mendidik anak adalah tugas yang sangat mulia. Ibu kami telah membuktikannya pada kita semua. Kami persembahkan pesta hari ini untuk Ibunda DR. Suparni, Spd”, tepuk tangan memenuhi ruangan begitu Guntoro selesai membacakan narasinya. Suasana haru bercampur gembira mewarnai pesta siang itu. **********